annisa.suwandasari10's blog
mencari dan memberi yang terbaik
 
 

Posted on February 14th, 2011 at 1:46 am by annisa.suwandasari10

Intermezo

D

i sebuah hutan kecil yang indah dengan suara suara daun-daun yang diterbangkan angin,terlihat tak jauh di kedalaman hutan dua orang anak kecil sedang tertawa riang.Seorang anak perempuan dan anak laki-laki.Keduanya terlihat begitu akrab.Berlari dan tertawa bersama.Tanpa kenal lelah.Semua terasa begitu menyenangkan sehingga membuat pohon-pohon pun ikut menari bersama mereka.

Setelah pada akhirnya sore menjelang dan matahari mulai menyembunyikan diri,mereka pun menyudahi kesenangan mereka yang seperti tiada akhir.Jalan setapak di hutan yang mereka lewati,akhirnya berujung di sebuah jalan menuju sebuah rumah mungil terbuat dari kayu yang menambah estetika rumah itu tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.Mereka pun berpisah tepat di depan rumah mungil itu.Gadis kecil itu masuk ke halaman rumah mungil itu,sedangkan anak lelaki itu terus berlari menuju rumahnya yang sepertinya tak jauh dari rumah sang gadis.Sang gadis terlihat melambaikan tangannya yang mungil ke arah sang anak lelaki.

Esok harinya,mereka bermain seperti biasa.Namun,tidak di tempat yang sama seperti kemarin,di hutan.Kali ini mereka bermain di sebuah taman yang tak jauh dari rumah mereka.Cukup berjalan kaki selama sepuluh menit mereka sudah sampai di taman itu.Mereka bersenang-senang seperti anak lainnya yang terlihat sedang bermain juga di situ.Saat semua sedang asyiknya bermain,terdengar suara petir yang cukup memekakkan telinga.Anak-anak pun ketakutan dan seketika  berhamburan dari taman menuju rumah masing-masing.

Anak laki-laki dan peremupuan kecil itu melewati sebuah jalan raya untuk menuju rumah mereka.Ketakutan meliputi mereka karena suasana menjadi bertambah gelap.Ketakutan mereka itupun membuat mereka lengah.Mereka tak melihat sekitar saat menyebrangi jalan.Terlihat dari ujung jalan sebuah cahaya yang ternyata adalah cahaya yang berasal dari sebuah mobil yang melaju sangat cepat ke arah mereka.Kejadian yang tak di inginkan pun terjadi.

Pagi yang indah

S

uara kicauan burung yang merdu mengiringi terbitnya sang fajar dari peraduannya.Burung-burung menari riang sambil menyanyikan lagu pagi yang sangat indah.Pagi yang sangat cerah..

Pagi itu adalah hari yang sangat penting bagi seorang anak karena hari itu merupakan hari pertama memasuki sekolah baru yang sangat sayang bila dilewatkan.

Kesibukan memenuhi isi kamar di sebuah rumah mewah yang berada di tengah kota besar yang memang sangat dipenuhi kesibukan setiap harinya.

“Mah..sepatu Dinda mana?”,seru seorang anak perempuan dari dalam kamarnya setengah berteriak.Sambil terus mencari-cari di bawah kasurnya,di belakang lemarinya,bahkan sampai dia cari ke belakang tv yang ada di dalam kamarnya.

“Kemarin sayang simpen dimana?Kan kemarin sayang yang simpen”,ujar lembut seorang wanita setengah baya yang masuk ke dalam kamar Dinda.

Dia pun menghampiri anaknya yang sedang kebingungan yang masih berusaha terus mencari sepatu barunya yang akan dia pakai hari itu.

“Kalo aku tau,aku ga kan tanya mamah.Bantu cari dong,Mah!”,serunya dengan nada tidak sabar untuk segera menemukan sepatu miliknya.

“Iya,mamah bantu cari.Tapi kamu tenang dong sayang.Sekarang kan masih jam setengah enam.Masih lama sayang.”,ujarnya dengan penuh kelembutan sambil mengelus rambut anaknya yang sudah disisir rapih dan dengan hiasan pita manis berwarna pink yang ia sematkan di rambut sebelah kirinya.

“Nah,ini apa?!Pantes aja sayang ga nemuin sepatu sayang dimana-mana.Sepatunya ada di dalam tas sih!”,ujar ibunya sambil menunjukkan sepatu yang sejak tadi dicari kepada putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi.

“Aaah…pantes aja!Lagian kenapa sepatu itu bisa ada di dalam tas sih?Perasaan aku ga nyimpen di situ.”,gerutunya sambil mengambil sepatu itu dari tangan ibunya dan segera memakainya.

“Makanya,lakuin segala sesuatunya dengan tenang,pikiran yang jernih.Jangan gegabah kaya tadi.”ujar ibunya sedikit menasehati.

“Iya mamah..Dinda ga akan kaya gitu lagi ko!Sekarang mendingan kita sarapan yuk.Dinda udah laper nih!”,ajaknya pada sang ibu setelah ia selesai mengikat sepatunya.

“Iya..kita sarapan sekarang”,ujar sang ibu menerima ajakan anaknya sambil menuntun tangan anaknya keluar dari kamar yang berada di lantai dua menuju ke ruang makan yang berada di lantai satu.

Di tempat lain,seorang anak lelaki masih terlihat santai di dalam kamarnya dan masih memainkan Play Station yang biasa ia mainkan saat dia merasa jenuh.Namun,sebuah panggilan dari luar kamarnya memecahkan konsentrasinya dari permainan yang sedang asik dia mainkan.

“Ayo,kita sarapan!Cepet turun ya Evan.Kita tunggu di meja makan!”,ujar seorang wanita,yang tak lain adalah ibu anak lelaki itu,dari depan kamarnya tanpa membuka pintu.

“Ya,Mah!Bentar lagi evan turun.”,jawabnya sambil mematikan Play Station yang ia mainkan tadi dan langsung memenuhi panggilan ibunya untuk segera menuju meja makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.

Hari Pertama

S

uara langkah kaki yang sedikit berlari terdengar dari dalam rumah menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.Suara langkah kaki pun terhenti,dan pemilik suara langkah kaki itu pun membalikkan badan.Lalu dia berteriak ke arah dalam rumah.

“Pah..Cepetan dong!Nanti Dinda terlambat nih..Ini kan hari pertama Dinda sekolah!”,serunya sambil berteriak.Dengan tak sabar,ia menunggu ayahnya keluar dan masuk ke dalam mobil untuk segera mengantarnya ke sekolah.

Tak lama,keluar lah seorang pria dengan pakaian rapih.Celana yang terlihat licin,kemeja biru muda yang terlihat begitu elegan,dilengkapi dengan dasi biru tua,dan jas yang membuatnya terlihat sangat berwibawa.Dan tak lupa,sepatunya yang terlihat begitu mengkilat.Itulah ayah Dinda, pemilik sebuah perusahaan iklan yang cukup terkenal di kota itu bahkan terkenal sampai keluar kota.

“Iya sayang..sabar sedikit dong!Kamu ga akan telat ko sayang..”,ujar sang ayah dengan lembut sambil tersenyum kecil melihat tingkah anaknya yang sudah terlihat sangat tak sabar untuk segera sampai di sekolahnya.

Dinda dan sang ayah segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan sang ibu yang berada di depan rumah,melihat anak dan suaminya pergi.Kunci mobil pun diputar,pedal gas diinjak,dan mobil pun meluncur dengan perlahan meninggalkan halaman rumah yang cukup besar untuk ukuran halaman rumah biasa.

Sepanjang perjalanan,Dinda selalu bertanya kepada ayahnya apa perjalanan masih jauh,kapan mereka sampai,atau menanyakan tentang rambutnya yang sejak pagi sudah ditata oleh ibunya sedemikian manis.Ayahnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya yang lucu.Memasuki sekolah baru,seperti akan masuk ke dalam sebuah rapat besar yang memerlukan ketepatan waktu yang sangat tepat dan penampilan yang sangat perfect.

“Kamu cantik ko sayang..Rambut kamu masih rapih,seperti yang papah lihat sebelum kamu sarapan.Perjalanan juga tinggal sebentar lagi.Tinggal belok di tikungan depan,udah sampe di sekolah kamu.”,seru sang ayah sambil terus tersenyum.

Tepat di tikungan yang berada di depan,mobil mewah itu pun berbelok dan segera berhenti di depan  gerbang sebuah Sekolah Menengah Pertama yang sangat favorit di kota itu.Dan dengan sigap,Dinda pun turun dari mobil.Tak lupa sebelumnya,ia mencium tangan dan pipi ayah yang sudah mengantarnya ke sekolah.Dinda pun melambaikan tangan ke arah mobil yang segera melaju setelah Dinda turun dari dalam mobil.Tanpa membuang waktu,Dinda pun segera memasuki gerbang sekolah yang sangat indah di matanya,yang merupakan sebuah sekolah menengah pertama.

Dinda berjalan setengah berlari menuju kelasnya yang sebelumnya sudah ia ketahui letaknya.Tak perlu lama ia berjalan mencari kelas,dia telah menemukan tulisan 1-B.Itulah kelas Dinda.Senyuman menghiasi wajahnya saat dia melihat kelas yang akan ia tempati di sekolah barunya.Namun,senyum itu seketika menghilang saat ia berada tepat di depan pintu masuk kelas.Ia melihat suasana kelas yang sudah sangat ramai,sampai ia hampir tak melihat ada kursi kosong untuk dia tempati.Dahi Dinda berkerut menahan kekesalan yang memenuhi pikirannya.

“Ini salah papah!Kenapa tadi dia bawa mobilnya lelet banget kaya siput!Sekarang kan aku jadi ga dapet tempat.Gimana dong?!”,gerutunya dalam hati sambil mengarahkan matanya ke dalam kelas terus mencari kursi kosong yang mungkin masih bisa ia tempati.

“Nah,itu dia!Ada tempat kosong.Akhirnya..”,serunya dalam hati dengan perasaan sedikit gembira karena bisa menemukan kursi kosong yang sepertinya bisa ia tempati.

Namun,saat ia hendak duduk di tempat itu,tiba-tiba ada tiga orang anak yang terlihat tidak bersahabat.Mereka pun mendorong tubuh Dinda menjauhi kursi itu.

“Hei,anak yang telat ga boleh dapet tempat duduk!Seenaknya aja..Kita yang punya kuasa di sini!”,bentak seorang anak perempuan yang tubuhnya agak sedikit lebih besar dan tinggi darinya.

“Lho ko gitu sih!Aku juga kan punya hak di sini.Aku mau sekolah di sini..”,ujarku sambil berusaha untuk menyeimbangkan tubuh.

“Ooh..kamu nantangin kita ya?!”,seru anak perempuan lain yang ada di sebelah kiri perempuan yang tadi membentak Dinda.

Dinda tak menjawab pernyataan itu dan malah mundur selangkah dari tempat yang tadinya ingin ia duduki.Dia agak merasa takut dengan mereka karena mereka memiliki tubuh yang lebih besar darinya.Namun,di tengah pertengkaran itu muncul sesosok anak lelaki yang mendekati mereka.

“Kalo kita nantangin,emang kenapa?”,serunya dengan nada tenang namun cukup membuat tiga anak perempuan jail tadi kaget dan merasa takut.Akhirnya,ketiga anak perempuan itu mundur dan membiarkan mereka menempati tempat yang memang sudah seharusnya mereka tempati.Karena hanya bangku itu saja yang masih kosong.

“Ayo duduk!Mereka udah pergi ko.”,ajaknya pada Dinda yang masih terbengong-bengong melihat anak lelaki itu.Lalu Dinda pun duduk di sebelah anak yang tadi sudah menolongnya.

“Oh ya,kenalin.Aku Evan.Kamu siapa?”,tanyanya dengan lembut sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

Dinda yang masih bengong pun segera menyadarkan dirinya kembali untuk membalas uluran tangan anak lelaki yang telah menolongnya tadi bak pahlawan.

“Aku Dinda..Tadi makasih ya!”,ujarnya sambil tersenyum malu.

“Iya,ga masalah ko!Lagian merekanya aja yang keterlaluan.Ini kan tempat kosong.Siapa aja boleh duduk di sini.Termasuk kita.Kenapa harus ngelarang kita duduk di sini.Udah ga usah dipikirin lagi.”,ujarnya sambil melepaskan jabatan tangan tadi dan segera meletakkan tasnya di belakang tubuhnya.

Dinda yang masih saja bengong terpaksa kembali dari dunia khayalnya menuju dunia nyata tempat ia berada sekarang karena kehadiran seorang guru di kelasnya.

Awal yang menyenangkan

‘T

eett,teett,teett..”,bunyi bel sekolah yang menandakannya berakhirnya proses belajar mengajar hari itu dan merupakan waktu pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Semua anak mengahambur keluar kelas setelah mengucapkan salam kepada gurunya.Tawa canda menghiasi seluruh lorong sekolah yang berasal dari siswa-siswi yang baru saja keluar dari kelasnya.Namun tak begitu dengan Dinda.

Dia merasa kebingungan harus pulang dengan kendaraan apa.Ayahnya tidak bisa menjemputnya karena ada rapat mendadak yang mengharuskannya pergi ke luar kota.Sedangkan supirnya sedang mengambil cuti.Ibunya pun tak bisa mengendarai satu pun mobil yang berjejer rapih di garasi mobilnya.Dan ia pun tak bisa dan tak tahu harus naik kendaraan umum apa.

“Aduh…gimana caranya aku pulang nih kalo kaya gini?!Masa harus nunggu papah pulang dari luar kota?!Ga mungkin banget.Bisa-bisa aku nginep di sekolah kalo kaya gini!Aduhh….”,gerutunya dalam hati sambil terus memandangi mobil yang berdatangan menjemput para siswa lain.Sesekali ia melihat handphone-nya yang tergenggam di tangannya.

Namun,tiba-tiba ada suara yang memecahkan suasana hatinya yang galau.Suara yang cukup ia kenal.Ia pun langsung menoleh ke arah suara itu datang.Dan suara itu berasal dari dalam mobil yang berhenti disampingnya.Terlihat seseorang yang berada di mobil itu dari balik kaca mobil.Orang yang ada di dalam mobil itu tak lain adalah Evan,sang penolong tadi.

“Kamu ga di jemput kan?Ayo biar aku antar kamu pulang.Daripada kamu harus nunggu di sini atau harus nyasar gara-gara salah naik angkot.”,ajaknya dari dalam mobil dengan kaca mobil di kursi belakang yang setengah terbuka.

Dengan malu-malu aku pun masuk ke dalam mobil memenuhi ajakan Evan untuk mengantarnya pulang dan segera duduk di kursi penumpang di sebelah Evan.Mobil pun segera melaju setelah Dinda memberi tahu alamat rumahnya kepada supir.

Perjalanan yang tadinya akan sangat tidak menyenangkan karena Dinda sudah membayangkan bahwa ia harus dan terpaksa menggunakan kendaraan umum untuk bisa pulang,ternyata malah jadi menyenangkan.Sesaat terbersit di pikirannya bahwa keputusan ayahnya untuk tidak menjemputnya dalah hal yang tepat.Pertama kalinya dia merasa hal bodoh menjadi begitu menyenangkan.

Perbincangan kesana-kemari pun mengisi perjalanan pulang menuju rumah Dinda yang tak begitu jauh dari sekolahnya.Sehingga perjalanan pun menjadi tak terasa.Sesaat kemudian setelah mereka tertawa lepas karena sesuatu hal yang lucu yang diceritakan oleh Evan,mereka pun tiba di depan rumah Dinda yang mewah.

“Hhhh…makasih ya udah nganter sampe rumah!Cerita kamu tadi bener-bener lucu lho..”,ujar Dinda sambil terus tertawa kecil.

“Iya,sama-sama..Kalo kamu ga ada yang jemput lagi,biar aku aja yang antar kamu pulang.Oh ya,lain kali,aku bakal ceritain lagi cerita-cerita lucu deh biar kamu ketawa!”,ujar Evan sambil tersenyum.

Dinda membalas pernyataan Evan dengan senyuman sambil keluar dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh supir.Dinda melambaikan tangan ke rah mobil Evan sampai mobilnya yang melaju tak lagi terlihat.Dinda pun langsung memasuki halaman yang gerbangnya sudah dibukakan oleh satpam yang ada di halaman depan rumahnya.

Setengah hari penuh senyum..

D

inda terus tersenyum sepanjang siang ini.Saat memasuki rumah,memasuki kamar,saat berganti pakaian,bahkan saat makan siang bersama ibunya.Hingga membuat ibunya merasa terheran-heran.Namun,beliau hanya diam tanpa menanyakan apapun pada anaknya.Ia ingin membiarkan anaknya merasakan kesenangan yang ia rasakan tanpa gangguan darinya.Walaupun tak bisa dipungkiri,ibunya merasa sangat penasaran.Namun ia hanya tersenyum melihat anak semata wayangnya yang pastinya sedang merasakan sesuatu yang sangat membuatnya senang.Naluri seorang ibu..

Di siang hari yang panas itu,Dinda merasakan sejuk di dalam kamarnya yang tak lain berasal dari AC.Wajahnya tak lepas dari senyuman.Dengan semangat ia membereskan buku untuk esok.Hal itu sangatlah jarang dilakukan Dinda pada siang hari.Namun,karena dia begitu semangat hari itu,jadi dia melakukan segala sesuatu yang sangat tidak biasa dilakukan Dinda.

Setelah merasa semua hal sudah ia lakukan sampai tidak ada lagi hal yang bisa ia lakukan di dalam kamar,ia pun membaringkan tubuhnya di kasur empuknya yang terlihat begitu manis dengan kelambu berwarna pink dan kupu-kupu yang menghiasi kelambu itu.Sangat manis..

“Huh…cape juga!Beres-beres kamar udah,nyiapin buku buat besok udah.Apalagi ya yang belum?”,tanyanya sendiri dalam hati.Namun,karena kelelahan dia pun akhirnya tertidur pulas di kasur manisnya.

Saat sore tiba,tangan halus nan lembut mengguncangkan tubuh Dinda dengan lembut.Dinda pun terbangun dari tidur nyenyaknya sore itu.Sambil mengusap matanya agar bisa melihat lebih jelas,ia duduk di pinggiran kasurnya.

“Udah sore sayang.Mandi dulu sana!Terus kita siap-siap makan malam.”,ujar ibunya dengan nada penuh kasih sayang.

Tanpa berontak,Dinda pun menuruti perintah ibunya.Ia segera menuju kamar mandi yang ada sebelah lemari pakaiannya  yang besar untuk membersihkan diri.

Malam yang indah

A

yah Dinda sudah sampai di rumah sebelum waktu makan malam.Sengaja ia segera pulang setelah rapat karena ingin bisa makan bersama keluarga kecilnya yang sangat ia cintai.

Ayah dan ibu Dinda sudah menunggu di meja makan untuk makan malam.Sesaat kemudian,muncul Dinda yang sedang menuruni anak tangga menuju meja makan.Dengan kaos lengan pendek berwarna kuning dan celana pendek berwarna hijau muda,ia terlihat begitu manis.Makan malam pun segera dimulai setelah Dinda menempati salah satu tempat duduk yang memang sudah menjadi tempat duduknya sejak ia kecil.Mereka semua menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh ibu Dinda yang sangat mahir memasak.Semua makanan yang ada di situ terlihat sangat enak.Membuat Dinda dan ayahnya tergiur untuk segera mencicipinya.Makan malam terasa begitu hangat..

Dinda mengobrol sebentar dengan orang tuanya di ruang keluarga yang memilki desain yang cukup antik.Dengan berbagai perabotannya yang berasal dari Eropa.Sehingga sangat terasa nuansa klasik di sana.

“Maafin papah ya,Dinda!Tadi papah ga bisa jemput kamu.Rapat tadi bener-bener mendadak.”,ujar ayah Dinda padanya.

“Ga apa-apa ko Pah.Lagian tadi siang Dinda di anter sama temen Dinda.Jadi Dinda ga perlu naik kendaraan umum.”,ujar Dinda pada ayanhya sambil tersenyum.

Ayahnya merasa lega mendengar jawaban Dinda.Ternyata anaknya tidak marah.Senyum pun menghiasi wajah ayahnya.

Setelah selesai makan malam dan mengobrol sebentar dengan orang tuanya,Dida langsung menuju kamarnya.Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya.Namun,ia tak langsung tidur tetapi sesaat ia melamun.Namun,rasa kantuk yang menyerangnya sangatlah tak tertahankan sehingga membuat Dinda tertidur pada akhirnya.

Pertemuan

H

ari-hari Dinda dipenuhi dengan tawa dan canda bersama teman barunya yang sangat menyenangkan baginya,Evan.Evan merupakan sosok yang sangat sempurna di mata dia.Sangat baik untuk ukuran teman baru.Menyenangkan..

Mereka pun tumbuh dewasa seiring waktu berjalan.Kedekatan mereka semakin terlihat.Bangku sma dan kuliah mereka lewati bersama.Tiada hari tanpa di lewati bersama.

“Hei,jalan yuk Van!Bete nih..Kuliah tadi bikin pusing!”,ajak Dinda sambil menepuk pundak Evan.

“Duh,gimana ya?Bentar lagi ada kuliah..”,ujar Evan sambil memandang wajah Dinda.

Terlihat raut sedih di wajah Dinda.Hal itu membuat Evan tak tega melihatnya.Akhirnya ia menyetujui ajakan Dinda.Mereka pun pergi bersama menuju sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kampus mereka.

Mereka berdua asik bercengkrama sambil menikmati ice cream di sebuah kafe.

“Eh,kita ko ga pernah punya pacar ya sampe sekarang?Payah banget sih kita.”,ujar Dinda di sela-sela pembicaraan mereka tentang film yang mereka suka.

“Kalo aku sih ga payah!Banyak ko yang suka sama aku.Tapi karena kamu deket-deket terus sama aku,jadinya ga ada cewe yang berani deketin aku deh.Abis kamu serem sih!”,ujar Evan sambil tertawa karena omongannya sendiri.

Dinda pun mencubit lengan Evan yang atletis dengan wajah yang cemberut.

“Sori,sori..Cuma becanda ko,Nda!Jangan cemberut gitu dong..”,bujuk Evan pada gadis yang masih cemberut.

Lalu dia melakukan gerakan yang pasti membuat Dinda tertawa,yaitu menggelitiknya.Akhirnya tawa Dinda pun pecah karena tak dapat menahan geli.Mereka pun tertawa bersama.Sangat menyenangkan..

“Eh,udah sore nih!Pulang yuk,Nda.Nanti kamu di cariin sama mamah kamu lagi gara-gara pulang kesorean.Kamu kan anak mamih!”,canda Evan pada temannya itu.

“Yee…emangnya aku anak kecil apa!Aku kan udah gede.Ga liat apa?”,seru Dinda sambil memandang Evan dengan sinis.

“Emang sih badanynya udah gede,tapi pikirannya masih anak-anak.Buktinya,jauh-jauh pergi ke mal cuma buat beli es krim.Ya kan??”,candanya lagi sambil mengangkat alis dan senyum tersungging di sudut bibirnya.

Kembali Dinda mencubit Evan.Kali ini lebih keras dari yang tadi.Sehingga membuat Evan sedikit terlihat kesakitan.Evan pun tertawa sambil memegang tangan Dinda yang lembut dan menjauhkannya dari lengan yang ia cubit tadi.

Evan pun menarik tangan Dinda dengan lembut.Mengajaknya keluar dari kafe itu sambil terus memegang tangan wanita itu.

Sepanjang perjalanan pulang mereka terus tertawa.Dinda tertawa mendengar cerita lucu yang Evan lontarkan.Namun,sesekali dia cemberut karena ejekan Evan pada Dinda yang tak luput dari pembicaraan mereka.Evan pun tertawa ketika melihat Dinda cemberut.Hal itu sangat lucu baginya.

Saking asiknya mereka bercanda,Evan pun tak memerhatikan jalanan yang saat itu cukup lengang.Tak jauh dari mobil Evan yang sedang melaju,terlihat seorang wanita sedang menyebrangi jalan.Evan yang saat itu masih tertawa,melihat ke jalan dan terkejut saat tepat di depan mobilnya ada seorang wanita.Dia pun segera menginjak rem.Mereka berdua terdorong ke depan saat Evan menginjak rem.Mobil pun berhenti dengan segera setelah rem diinjak.Namun,sedikit telat.Karena wanita yang sedang menyebrang tadi jatuh tersungkur karena tertabrak mobil Evan.Evan pun segera turun dari mobil untuk melihat keadaan wanita yang ditabraknya.

“Mba,ga apa-apa??Ada yang luka??Biar saya bawa ke rumah sakit.Saya minta maaf banget.Tadi emang saya kurang hati-hati.”,ujar Evan yang terlihat sangat gelisah melihat wanita itu masih terduduk di aspal.

“Saya ga apa-apa ko mas.Tadi Cuma kesenggol dikit aja.Ga ada luka ko!Lagian saya juga yang salah,nyebrang sendirian.”,jawab wanita itu sambil berusaha bangkit.Evan pun membantunya.

“Bener mba ga apa-apa?Sekali lagi saya minta maaf ya.Saya bener-bener ga sengaja.”,ujar Evan yang masih sangat merasa bersalah.

“Ga apa-apa ko Mas!Ini memang salah saya.Orang buta tapi nyebrang sendirian.”,ujar wanita itu sambil mengibaskan pakaiannya dari kotorannya yang barangkali menempel di bajunya.

Evan tercengang mendengar itu.

“Oh..wanita ini buta!Kasian banget.Padahal dia cantik.”,ujarnya dalam hati.

“Ya udah,mba kita antar ke tempat tujuan mba aja ya!Bahaya kalau jalan sendirianLagian ini udah mau malem.”,seru Dinda yang ternyata sudah turun dari mobil dan mendengar semua pembicaraan tadi tanpa Evan sadari.

“Ga usah mba!Makasih.Saya bisa pulang sendiri ko.”,jawab wanita itu pada Dinda dengan tatapan yang entah kemana arahnya.

“Udah mba,kita anter aja.Mba tinggal kasih tau kita alamat rumah mba.Kita bakal anter ko!Ya kan,Van??”,ujar Dinda sambil menepuk bahu Evan yang sedari tadi masih memikirkan pernyataan wanita itu.Evan pun tersadar dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan pernyataan Dinda yang walaupun ia tak tahu pasti apa yang tadi di bicarakan Dinda.

Akhirnya wanita itu pun mengalah dan menerima ajakan mereka berdua.Dinda pun menuntun wanita itu menuju mobil.Wanita itu pun duduk di kursi penumpang yang ada di belakang.Setelah wanita itu memberitahukan alamat rumahnya,mobil pun segera melaju menuju tempat yang dituju wanita itu.

Perjalanan berlangsung hening,terutama bagi Evan yang masih saja begong.Tak lama,mereka pun sampai di sebuah gang kecil di pinggir jalan.Sepertinya tak cukup untuk masuk mobil.Akhirnya,mereka pun memutuskan untuk melanjutkan mengantar wanita itu dengan berjalan.”Ayo, kita antar sampai dalam.Tapi kita jalan kaki.Soalnya mobil ga bisa masuk di gang ini.”,seru Dinda pada wanita yang masih terduduk di kursi penumpang.

“Ga usah mba!Mba kan udah anter saya jauh-jauh gini.Masa masih harus nganterin saya sampe dalam.Biar saya sendiri aja mba.Saya ga enak ngerepotin mba sama mas.”,ujarnya pada Dinda.

“Udah,ga apa-apa mba.Kita ga ngerasa direpotin ko.Malah kita yang ga enak sama mba kalo ga nganterin sampe dalem.”,ujar Dinda pada wanita itu.

Lalu Dinda pun segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk wanita itu.Dan memegang tangan wanita itu menuntunnya keluar dari mobil dengan sangat hati-hati.

Evan pun keluar dari mobil dan segera mengikuti Dinda yang menuntun wanita itu menuju ke sebuah gang.Tak perlu berjalan jauh,mereka pun sampai di sebuah rumah yang menurut alamat yang diberikan  wanita itu adalah rumahnya.Mereka tak sempat memenuhi ajakan wanita itu untuk mampir sebentar di rumahnya sekedar minum teh karena hari sudah malam.Mereka pun segera pamit pulang setelah mengantar wanita itu.

Di perjalanan pulang,Evan tetap terdiam.Tak seperti biasanya yang selalu saja bicara.Entah itu membicarakan tentang kuliah,film,cerita lucu,ataupun sekedar mengejek Dinda seperti tadi.Hal itu membuat Dinda sedikit khawatir pada temannya itu.

“Kamu baik-baik aja kan,Van?”,tanya Dinda dengan wajah yang tak yakin.

“Hah??Oh,baik-baik aja ko!”,jawabnya dengan nada sedikit gugup karena terkejut dengan pertanyaan Dinda yang memecahkan lamunannya.

“Yakin??Tapi dari tadi kamu diem aja.Aku kan jadi khawatir.”,tanyanya lagi untuk meyakinkan.

“Iya,aku baik-baik aja ko Dinda Oktaviani Sacharina..”,jawabnya lagi dengan nada lembut yang cukup meyakinkan wanita yang mencemaskannya itu.Dinda pun berhenti bertanya lagi tentang hal itu.Sekarang ia cukup yakin kalau temannya itu baik-baik saja.

Perubahan yang menyakitkan…

E

sok harinya,seperti biasa Evan menjemput Dinda di rumahnya untuk berangkat bersama ke kampus.

“Mah,Dinda berangkat ya!Dah mamah..”,seru Dinda sambil berlari dari ibundanya yang tak terlihat oleh Evan karena terhalangi oleh tiang rumahnya yang begitu kokoh berdiri.

“Hati-hati ya,sayang.”,seru ibunya pada sang anak tersayang yang sedang berlari menuju mobil yang terparkir di depan gerbang rumah megah itu.

Mobil pun melaju setelah Dinda masuk ke dalam mobil.

“Oh ya,Nda!Nanti pulang kuliah kayanya aku ga bisa anter kamu pulang.Soalnya aku ada urusan.Ga apa-apa kan?Tapi aku janji ko,besok-besok aku bakal anter kamu lagi.”,ujarnya pada Dinda yang duduk di sebelahnya yang sedang sibuk membereskan isi tasnya.

“Ooh..gitu ya!Ya udah ga apa-apa.Aku bisa suruh supir aku jemput ko!”,jawab Dinda dengan tersenyum.

Evan pun tersenyum mendengar jawaban dari temannya itu yang ternyata tak marah dengan pernyataannya.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB,tanda jam kuliah Evan telah berakhir.Setelah dosen keluar dari kelas,Evan pun segera keluar dan langsung menuju tempat dimana mobilnya terparkir.Segera ia masuk ke dalam mobilnya dan segera melesat menuju tempat yang hendak ia tuju hari ini.

Esok harinya,Evan menjemput Dinda seperti biasa.Terasa seperti replay saat itu saat Evan kembali mengatakan pada Dinda bahwa ia tidak bisa mengantarnya pulang dan berjanji besok ia akan mengantarnya pulang.Dinda pun menjawab dengan tersenyum seperti halnya kemarin.

Hal itu terus terulang selama berminggu-minggu.Yang akhirnya memaksa Dinda untuk terus dijemput oleh supirnya.Dinda merasakan sesuatu hal yang berbeda terjadi pada temannya.Setelah kejadian menabrak seorang wanita sepulang dari jalan-jalan ke sebuah mal,mereka berdua tak pernah jalan bersama lagi.Bahkan sudah tidak pernah pulang bersama.Dinda tak merasa keberatan jika Evan tak bisa mengantarnya pulang,tapi ia khawatir pada temannya itu.Apa yang sedang ia kerjakan sehingga membuat dia menjadi orang yang sangat sibuk.Tak memiliki waktu untuk sekedar menemaninya makan di kantin seperti biasanya.Evan yang biasanya selalu ada waktu untuk seorang Dinda.Hati Dinda merasa kosong dan sepi.

Cemburu?!??!?!?

S

uatu ketika,Dinda melihat seseorang yang mirip Evan dari kejauhan.Dia terlihat sedang bersama seorang wanita di sebuah taman kota yang kebetulan ia lewati.Dinda sangat tertarik untuk melihat lebih dekat.Ia pun langsung meminggirkan mobilnya.Ia turun dari mobil dan mendekati dua orang itu yang sedang asik bercanda penuh tawa.Seperti yang biasa ia lakukan dengan Evan.

Dinda bersembunyi di balik sebuah pohon yang cukup untuk bisa menutupinya agar tidak ketahuan oleh kedua orang itu.Ia pun mencoba melihat dari sela-sela daun.Dan ternyata memang yang dilihatnya itu adalah teman dekatnya,Evan.Dan ia sangat terkejut ketika melihat wanita yang ada bersama Evan adalah wanita yang sama yang pernah mereka tabrak.Mata indah Dinda semakin membelalak ketika melihat kedua tangan Evan yang kuat memeluk tubuh wanita itu dengan mesranya.Dinda merasa pusing ketika melihatnya.Perasaannya menjadi tak karuan.Air mata pun mengalir di pipi Dinda yang merona.Dinda akhirnya pergi dari situ karena sudah tak tahan dengan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Dinda langsung menginjak gas dan mobilnya segera melesat dari tempat itu.Air mata Dinda tak kunjung henti sepanjang perjalanan hingga ia sampai di rumahnya.Ibunya yang bingung melihat anak manisnya menangis,langsung menghampiri anaknya itu yang sedang menelungkup di tempat tidurnya sambil memelekuk bantalnya.

“Kamu kenapa sayang?Ko nangis?Ada apa?Cerita sama mamah.Mungkin mamah bisa bantu.”,tanya ibunya dengan lembut pada anaknya yang tak henti-hentinya menangis.

Dinda tak menjawabnya.Ia hanya menangis dan tangisan semakin keras.Membuat ibunya semakin bingung dan turut bersedih.Tapi ibunya tahu bahwa anaknya butuh waktu untuk sendiri.

“Ya udah,kalo belum mau cerita ga apa-apa!Tapi kalo nanti kamu mau cerita,mamah pasti bakal dengerin ko sayang.”,ujar ibunya sambil membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.

Lalu ibunya beranjak dari samping anaknya.Namun,ketika ibunya baru saja berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur Dinda,tangannya dipegang erat oleh Dinda.Lalu Dinda menarik ibunya dan langsung memeluknya sambil berderai air mata.

Ibunya membalas pelukan Dinda yang begitu erat sambil terus membelai rambut Dinda penuh kasih.Setelah menangis cukup lama di bahu ibunya,Dinda akhirnya mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuatnya menangis begitu hebatnya.

Semua cerita Dinda,didengar baik-baik oleh ibunya sambil terus memegang tangan anaknya agar ia tetap tenang.Ibunya sangat mengerti bagaimana perasaan Dinda saat itu.Ibunya pun kembali memeluk Dinda sambil membisikkan sebuah kalimat yang membuatnya terkejut.

“Kamu cemburu sayang.”,bisik ibunya pada Dinda yang ada dalam pelukannya.

Setelah mengucapkan itu,ibunya melepaskan pelukannya sambil terus tersenyum ketika Dinda menatapnya.Lalu,ibunya pun pergi dari kamar Dinda.Meninggalkan putrinya yang masih terdiam.

Kemarahan..

P

agi itu,Dinda mengendarai mobil sendiri untuk berangkat kuliah.Ia tak menunggu Evan menjemputnya seperti biasa.Ia yakin,Evan bahkan telah lupa padanya sehingga tak mungkin ia menjemputnya.Ia pun segera pergi tanpa sarapan mengisi perutnya yang kosong sejak semalam.

Setibanya di kampus,Dinda segera memarkirkan mobilnya.Saat ia hendak menuju kelasnya,ia dihampiri oleh seorang laki-laki yang sepertinya mengejar ia sejak tadi.Laki-laki yang tak lain adalah Evan.Evan tepat berdiri di sebelah Dinda yang hari itu mengenakan kacamata untuk menyembunyikan bengkak pada matanya akibat menangis sepanjang malam.

Nda,tadi kamu kemana?Aku kan jemput kamu.Tapi kata mamah kamu,kamu udah berangkat.Kenapa ga nunggu aku sih?Aku lama ya jemputnya?”,tanya Evan pada Dinda yang hanya diam mendengar apa yang dikatakan teman baiknya itu.

“Nda,jawab dong!”,seru Evan pada Dinda karena dia tak menjawab pertanyaannya.

Seketika Dinda pun berhenti dan langsung membalikkan badan dan menatap Evan.

“Mulai sekarang kamu ga usah repot-repot buat jemput aku lagi.Mulai sekarang aku bawa mobil sendiri!”,seru Dinda pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.

“Lho ko gitu sih?Kamu kenapa sih Nda?”,tanya Evan pada Dinda yang terus saja berjalan tanpa menghiraukan pertanyaannya.

Evan pun menarik tangan Dinda yang membuat Dinda berhenti seketika.

“Bukan aku yang kenapa.Tapi kamu yang kenapa!”,seru Dinda dengan nada tinggi dan sedikit berteriak.Tak peduli dengan sekitarnya yang mulai memerhatikan mereka.

“Aku?!Emang aku kenapa?Kamu marah sama aku?Aku salah apa Nda?”,tanya Evan pada gadis yang sebelumnya selalu bersikap sangat manis padanya.

“Kamu kenapa?!Salah apa?!Tanya aja sama diri kamu sendiri!”,seru Dinda pada Evan sambil menyingkirkan tangan Evan dari lengannya.

Lalu,Dinda pun segera pergi dari tempat mereka berhenti sejenak tadi.Meninggalkan Evan dengan penuh tanya.

Sepulang kuliah,Evan langsung menuju kelas Dinda untuk melanjutkan pembicaraan yang tadi pagi membuatnya bertanya-tanya.Dengan sabar,Evan menunggu Dinda di kursi yang menghadap ke kelas Dinda.Saat terlihat dosen sudah keluar dari kelas,dengan sigap Evan langsung menuju pintu kelas.Dan langsung mencari wajah gadis yang ia cari.

Dinda terlihat masih ada di tempat duduknya.Ia masih membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.Dengan penuh rasa penasaran,Evan langsung menuju tempat duduk Dinda.Dinda terlihat terkejut saat melihat sosok laki-laki yang sangat akrab di matanya yang sangat tak ingin ia temui untuk sekarang.Didna segera bangkit dari kursinya dan hendak keluar kelas untuk menghindari Evan.Namun,tangan Evan dengan segera memegang lengan Dinda,menahan dia untuk pergi.Dinda berontak,namun cengkraman Evan sangat kuat di lengannya.Sehingga membuatnya tak bergerak dari tempatnya sekarang.

“Kamu mau apa sih sebenernya?Lepasin tangan aku!”,bentak Dinda pada Evan sambil terus berontak.

“Aku mau kejelasan dari kamu.Kenapa kamu jadi kaya gini.Terus aku ini salah apa sama kamu?Tolong cerita sama aku.Bilang.Aku ga akan tau maksud kamu apa kalo kamu ga bilang,Nda..”,ujar Evan dengan penuh kelembutan.

“Kamu belum ngerti juga?”,bentak Dinda sambil menghela napas dengan keras sampai Evan bisa mendengar hembusan napasnya.

“Iya,aku emang belum ngerti.Makanya aku tanya sama kamu Nda..Tolong jelasin sama aku..”,mohon Evan pada Dinda yang tetap terlihat benci padanya.

Dinda terlihat bingung bagaimana ia menjelaskannya pada Evan.Tidak mungkin jika ia harus mengungkapkan perasaannya dan mengatakan pada Evan bahwa sebenarnya ia ‘cemburu’.Itu akan sangat memalukan.

“Aku benci sama kamu yang ga pernah jalan bareng lagi sama aku.”,ujar Dinda pada Evan dengan suara yang kecil.Dia tau bahwa bukan itulah yang seharusnya ia katakan.Namun,itu lebih baik dibandingkan ia harus mengatakan yang sejujurnya pada Evan.

“Hahaha…jadi gara-gara itu!Dinda,Dinda…Ya udah,mulai sekarang aku bakal jalan bareng lagi sama kamu!Maaf ya kalo aku selama ini sibuk sendiri.”,ujar Evan pada gadis manis yang ada di hadapannya itu sambil memegang kedua pipi gadis itu penuh kelembutan.

Dinda yang tadinya sangat kesal pada Evan,menjadi luluh oleh perkataan Evan yang cukup membuatnya tenang.

“Ayo sekarang kita pergi.Kita beli es krim terus kita nonton.Kamu deh yang pilih filmnya.”,ujar Evan pada Dinda sambil merangkulnya.

“Lho,terus mobil aku gimana?”,tanya Dinda bingung.

“Itu sih gampang!Suruh aja supir kamu ambil mobil ke sini.”,seru Evan pada Dinda yang menatapnya bingung.

“Oh iya ya!Oke deh.Aku telfon supir aku dulu ya!”,seru Dinda pada Evan sambil tersenyum.

Mereka pun terlihat akrab lagi.Sangat jauh berbeda dari yang orang-orang lihat sewaktu pagi.Tangan Evan yang merangkul bahu Dinda mesra membuat semua orang yang ada di lorong kampus iri melihatnya sekaligus bingung.Begitu cepatnya mereka berbaikan.Mungkin karena mereka sudah sangat dekat.Sehingga sangat mudah untuk berbaikan kembali walaupun telah terjadi perang dingin sebelumnya.

Perasaan yang terungkap…

T

awa dan canda menghiasi saat-saat mereka makan ice cream dan saat menonton sebuah film yang Dinda pilih.Namun,semua itu hilang begitu saja ketika mereka berdua sedang berada di eskalator yang menuju lantai dasar.Saat itu terlihat seorang wanita yang membuat mata Evan berpaling dari Dinda.Sesosok wanita yang tak asing di mata Dinda sedang bersama seorang lelaki paruh baya yang mungkin adalah ayahnya.Wanita itu adalah yang ia lihat sedang bersama Evan di sebuah taman yang pernah mereka tabrak sebelumnya.Evan pun menghampir mereka.

Dinda merasa risih melihat pemandangan itu.Ia tak tahan melihat Evan bersama wanita itu untuk yang kedua kalinya.Dinda pun pergi dari tempat ia melihat mereka.Evan yang melihat Dinda pergi keluar dari mal,segera mengejarnya.Untuk yang kesekian kalinya,Evan menarik lengan Dinda.

“Nda,mau kemana?”,tanya Evan pada Dinda yang terlihat marah.

“Pulang!”,jawab Dinda dengan sinis.

“Tapi sekarang lagi hujan.Payung aku ada di mobil.Kamu tunggu bentar ya di sini.Aku ambil payung dulu biar kamu ga kehujanan.Nanti aku antar pulang.”,ujar Evan dengan nada yang tetap tenang walaupun kemarahan sangat kentara di wajah Dinda.

“Ga usah di anter!Aku bisa pulang sendiri.Naik taxi.Kamu urus aja tuh cewe kamu!”,seru Dinda pada Evan dengan nada suara yang mulai meninggi.

“Ko kamu ngomongnya gitu sih Nda??Pokoknya kamu bakal aku anter pulang!”,seru Evan.

Namun,Dinda tak mendengarkan apa yang dikatakan Evan.Ia melanjutkan langkahnya keluar mal dan air hujan pun membasahi tubuhnya ketika Dinda sudah berada di luar mal.Evan segera mengikuti Dinda dan  menarik kembali tangan Dinda.Hujan pun turut membasahi tubuh Evan.

Tubuh Evan terlihat samar di balik balutan T-shirt putih yang ia kenakan yang sudah kuyup terkena hujan.Tubuh Dinda pun terlihat menggigil di tengah hujan yang terus membasahi mereka.Namun,hal itu tak membuat pertengkaran yang lebih hebat terhindarkan.

“Dinda,kamu ini kenapa sih?Tadi kayanya kamu baik-baik aja deh.Ko tiba-tiba jadi gini lagi?”,seru Evan dengan suara yang keras.Namun tetap saja,suara yang terdengar hanya samar-samar karena terhalangi oleh hujan.

“Kamu mau tau kenapa aku kaya gini,hah?”,seru Dinda dengan suara yang keras pula.

Terlihat Evan yang menggeleng mendengar ucapan Dinda tadi.Tanpa ragu,Dinda pun melanjutkan ucapannya tadi.

“Ini semua karena dua hal yang harus kamu tau!Yang pertama,aku suka kamu dan  yang kedua adalah kehadiran cewe itu penyebabnya.”,seru Dinda dengan nada yang tegas,tanpa sedikitpun keraguan.

Evan merasa tidak yakin dengan apa yang ia dengar.Dia berpikir,apakah karena hujan yang deras sehingga membuatnya menjadi salah mendengar.Namun dari ekspresi Dinda yang serius,ia sadar bahwa yang ia dengar adalah sebuah kebenaran.Bukan karena ia salah mendengar.

“Dinda,makasih sebelumnya kamu udah suka sama aku.Tapi maaf,aku ga bisa bales perasaan kamu.Sekarang ada seseorang yang lebih butuh aku.Mungkin itu cuma perasaan suka biasa aja,bukan rasa cinta.Mungkin itu semua ada hanya karena kita udah deket banget sejak SMP.Ga lebih,aku yakin.”,ujarnya pada Dinda sambil mengelus pipi Dinda yang memerah karena kedinginan.

Air mata Dinda pun mengalir.Tapi tak terlihat karena tertutupi oleh hujan yang juga mengalir di pipinya yang mulai membeku,sebeku hatinya sekarang.

“Aku juga cinta dia.”,lanjut Evan.

Praanggg…..hati Dinda yang membeku pun hancur berkeping-keping.Tak lagi berbentuk.Air mata semakin deras mengalir,sederas hujan yang terus membasahi bumi sore itu.

“Kenapa?Kenapa kamu bisa cinta sama orang yang baru kamu kenal.Bahkan kamu ga tau apa-apa tentang dia.Ya kan?”,seru Dinda sambil terus menangis dan menarik T-shirt yang Evan kenakan.Wajahnya terlihat sendu sekali.

“ Aku kenal dia.Kenal baik.Lebih dari siapapun,Nda.”,jawab Evan singkat sambil menahan tangisnya pun keluar karena melihat gadis yang sangat dekat dengannya bersedih hati karena dia.

Dinda pun berlari menjauhi Evan.Saat itu Evan hanya terdiam melihat Dinda pergi dengan penuh kesedihan di wajahnya.Evan sangat mengerti perasaan Dinda,namun ia tak bisa berbuat apa-apa.Hanya melihat punggung Dinda yang semakin jauh dan akhirnya menghilang di sebuah tikungan.

Sesampainya di rumah,Dinda langsung menuju kamarnya dengan terhuyung.Ia merasa sedikit pusing.Namun perasaannya terasa lebih sakit lagi di banding kondisi tubuhnya sekarang.Dinda pun terjatuh pingsan saat hendak menaiki tangga yang menuju kamarnya.

Kisah masa kecil…

S

aat Dinda tersadar dari pingsannya,ia sudah berada di kamarnya.Di sampingnya,ibu dan ayahnya terlihat sangat cemas melihat anaknya yang terlihat begitu pucat.

“Dinda ga apa-apa ko Mah,Pah.Tenang aja..”,ujar Dinda dengan suara yang hampir tak terdengar.

Ayahnya hanya tersenyum kepada anaknya sambil merangkul bahu istrinya yang ia tahu sangat mengkhawatirkan anak semata wayangnya.

“Oh ya,tadi Evan langsung dateng setelah mamah bilang kalo kamu pingsan.Terus dia titip surat ini buat kamu.Katanya ini penting banget,kamu harus baca.Tapi dia bilang,kamu baru boleh baca surat ini kalo kamu udah sehat.Sekarang kamu kan masih lemes,jadi nanti aja ya bacanya.”,ujar ibunya penuh perhatian.

“Ga apa-apa Mah.Dinda baca aja sekarang.Dinda baik-baik aja ko!”,ujar Dinda sambil tersenyum.Mencoba meyakinkan ibunya bahwa ia cukup kuat untuk membaca surat dari Evan.

Ibunya pun memberikan surat itu pada anaknya.Walaupun ia tidak begitu yakin kalau anaknya baik-baik saja.

Ketika malam,sebelum Dinda akhirnya tertidur,ia mencoba untuk membaca surat yang di berikan Evan pada ibunya untuknya.Amplop biru pun terbuka saat Dinda menyobeknya.Terdapat beberapa lembar surat di dalamnya.Ia pun mulai membaca surat dari urutan pertama ketika ia membuka surat itu.

Lembar 1

Dear Dinda,

Dinda maafin aku ya,aku sama sekali ga berniat buat nyakitin kamu.Aku ga mau ngeliat kamu sedih kaya tadi.Asal kamu tau,aku juga sedih waktu ngeliat kamu sedih.Aku ga mau kamu nangis karena aku.Aku ga mau kamu sedih karena aku.Karena cowo kaya aku.Aku mohon Dinda,maafin aku sebelumnya.

Aku bener-bener nyesel udah bikin kamu sedih.Pertama kalinya aku ngeliat kamu sedih kaya tadi.Itu bener-bener bikin perasaan aku hancur.Aku ga tau harus ngelakuin apa.Aku bingung.

Tadinya aku ga mau cerita tentang ini sama kamu.Tapi kayanya lebih baik kamu tau.Tau apa yang selama ini terjadi sama aku.Tentang aku sebelum kita ketemu di SMP.Aku pengen kamu siapin diri untuk baca surat ini.Aku ga mau kamu jadi tambah sakit gara-gara baca surat ini dan tau yang sebenarnya.Makanya aku pesen gitu sama mamah kamu waktu ngasihin surat ini.

Lembar 2

Semua ini berawal dari sebuah pertemanan dua orang anak kecil.Anak laki-laki dan perempuan.Mereka sangat dekat,akrab dan saling menyayangi.Selalu bersama kemanapun.Bermain bersama di hutan adalah hal yang paling mereka sukai.Karena tempatnya yang tenang,sejuk dan jauh dari keramaian kendaraan.Tapi,suatu ketika mereka ingin mencoba sesuatu hal yang baru.Mereka tidak bermain di hutan,tapi mereka pergi ke sebuah taman yang tak  jauh dari rumah mereka.Mereka sangat senang bermain di sana.Memainkan semua permainan yang ada tanpa mengenal waktu.

Di tengah kesenangan mereka,tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat keras.Sehingga membuat para anak yang ada di taman itu berlarian keluar dari taman.Begitupun dengan anak perempuan dan laki-laki itu.Mereka berlari menuju rumah masing-masing.Ketakutan membuat mereka tak memerhatikan jalanan yang mereka lewati.Saat mereka tiba di tengah sebuah jalan raya,muncullah mobil yang melaju cepat.Kecepatan anak kecil berlari sangatlah jauh dari kecepatan mobil itu.Sehingga membuat sang gadis kecil yang sedikit tertinggal oleh anak lelaki yang sedari tadi bersamanya yang telah mencapai tepi jalan pun tertabrak oleh mobil itu.Sang anak lelaki tak bisa melakukan apa-apa selain berteriak minta tolong.Karena dia hanyalah seorang bocah yang tak tahu apa-apa.

Lembar 3

Gadis kecil itupun dilarikan  ke rumah sakit dan segera mendapat penanganan dokter di ruang ICU.Kabar tak baik pun datang dari seorang dokter yang tadi menangani gadis kecil itu.Ia menyatakan bahwa gadis itu mengalami kebutaan permanen.Kecuali dia mendapatkan donor kornea mata.Ayah gadis itu yang ada di sana pun terpuruk sedih karena mendengar hal itu.Ia tak mau sampai kehilangan anak satu-satunya setelah ia kehilangan istrinya setahun yang lalu karena penyakit yang dideritanya.

Anak laki-laki yang ada di saat kecelakaan itu terjadi pun merasa sedih dan merasa bersalah.Dia pun mencoba terus mengibur gadis kecil itu yang hari-harinya dipenuhi kegelapan.Tanpa sadar,sang anak laki-laki mengucapkan sebuah janji yang dengan tak sengaja ia ucapkan.Yaitu,menikahi sang gadis saat mereka sudah tumbuh dewasa.

Namun,sang anak laki-laki harus pergi dari kota itu ketika ayahnya dipindah tugaskan oleh kantornya.Ia pun meninggalkan gadis kecil itu sendirian dengan bayang-bayang janji akan menikahi sang gadis kecil.

Mereka berdua pun tumbuh dewasa di tempat yang berbeda.Janji tentang pernikahan pun terlupakan oleh sang anak laki-laki yang sekarang sudah menjadi lelaki dewasa.

Lembar 4

Namun pada akhirnya mereka di pertemukan kembali oleh waktu pada saat yang sangat tidak tepat.Yaitu,saat sang anak laki-laki mulai menyukai wanita lain dalam kehidupannya sekarang.Tapi ia tak bisa mengelak dari janji yang pernah yang ia ucapkan yang diingatkan kembali oleh gadis kecil yang sekarang pun telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik.

Ia terus dihantui oleh rasa bersalah karena telah membuat gadis itu menjadi buta.Hingga sekarang penyesalan itu masih ada dan berbekas di hatinya.Itu yang membuatnya mencoba untuk melupakan gadis yang sedang ia sukai dan kembali ke gadis masa kecilnya.

Anak lelaki itu adalah aku,Evan.Gadis kecil itu adalah Putri,gadis yang waktu itu tak sengaja ku tabrak sepulang dari mal bersamamu.Dan gadis yang aku sukai dan sekarang sedang aku coba untuk lupakan adalah kamu,Dinda.

Aku sangat tidak ingin melupakanmu.Tapi aku pun tak bisa membiarkan seorang wanita yang secara tak sengaja telah aku buat masa depannya suram.Aku harus kembali padanya,Dinda.Tolong kamu mengerti keadaan aku.

Aku akan selalu mencintai kamu dan menempatkan dirimu di hatiku.

Salam cinta,

Evan

Air mata pun mengalir deras di pipi Dinda yang hangat saat itu.Ia tak tahu bahwa selama ini Evan punya rahasia sebesar ini.Padahal dia selalu menceritakan semua hal yang terjadi padanya.Cerita tentang tetangganya yang selalu ribut setiap hari,cerita tentang dosennya yang killer,dan semua hal yang terjadi.Tak di sangka ia mempunyai rahasia besar di balik cerita-cerita lucunya yang selalu Dinda dengar setiap hari.

Dinda terharu sekaligus sedih dan juga merasa senang karena ia tahu bahwa Evan pun menyukainya.Ia pun melipat kembali surat  yang sudah basah oleh air matanya dengan rapih dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.

Pengorbanan demi kebahagiaan…

E

sok harinya,Dinda mulai merasa kembali sehat.Tapi ia belum mau untuk masuk kuliah.Karena ada hal yang harus ia kerjakan hari itu juga.Yang sudah ia rencanakan matang-matang.Yaitu pergi ke rumah sakit.

Dinda berpamitan pada ibunya seperti biasa.Ia mengatakan pada ibunya bahwa ia akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.Untuk meyakinkan kalau dia memang sudah sehat.Ibunya pun mengijinkannya.Dinda pun pergi ke rumah sakit bersama supirnya.

Setelah urusan di rumah sakit selesai,ia pun segera pulang.Senyuman manis menghiasi wajah Dinda yang rupawan sepanjang hari itu.

Sepulangnya dari rumah sakit,Dinda langsung menuju kamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya dari dalam.

Lalu,Dinda mengirim pesan singkat pada Evan,lelaki pujaannya.

“Esok hari,aku yakin kamu akan bahagia.Bahagiaku menyertaimu dan wanita yang akan bersamamu.”,isi pesan singkat Dinda.

Dengan penuh senyum yang selalu tersungging dari bibirnya,sangat memerlihatkan kebahagiaan Dinda.Walaupun dia sadar bahwa ia harus melepas lelaki pujaan hatinya.

Dinda tak pernah terlihat kembali di kampus setelah ia mengirimkan pesan singkat pada Evan.Evan sangat yakin bahwa Dinda pasti pindah kampus bahkan mungkin pindah kota untuk menghindarinya.Ia pun sepertinya mengerti.Jika ia berada di posisi Dinda,ia pun akan melakukan hal yang sama.Hal itu membuat Evan mengurungkan niatnya untuk mencari tahu tentang Dinda.

Suatu hari,Evan yang terlihat sedang membaca buku di sebuah taman yang cukup sepi dikejutkan oleh sesosok wanita yang tiba-tiba saja ada di hadapannya.Ia langsung melihat sosok wanita yang berdiri di depannya dengan mengenakan terusan merah muda yang sangat manis membalut tubuhnya yang langsing.Semakin terkejutlah Evan ketika ia melihat wanita yang berdiri di hadapannya adalah wanita yang sudah tidak asing lagi baginya.Ia sangat terlihat cantik dengan tatapannya yang hangat.Tatapan yang sangat ia kenali.Namun bukan seperti tatapan wanita yang ada di hadapannya.Wanita itu adalah Putri,gadis masa kecil Evan.

Ia berdiri dengan penuh senyum bahagia.Tatapannya begitu pasti.Tak seperti biasanya.Evan dilanda kebingungan.Namun itu tak berlangsung lama,karena pernyataan dari wanita itu menjawab semua pertanyaan yang muncul di kepalanya.

“Akhirnya aku bisa ngeliat wajah kamu lagi,Evan.Aku seneng banget!”,seru wanita itu pada Evan yang tercengang karena ucapannya tadi.

“Apa?Kamu bisa liat?Ko bisa?Bukannya kamu….”,ucapan Evan pun berhenti sampai disitu.

“Aku dapet donor kornea,Van!Kamu seneng juga kan aku udah bisa liat?”,tanyanya penuh harap pada Evan yang semakin terkejut.

“Donor kornea?Kapan?Siapa orang yang donorin korneanya buat kamu?”,tanya Evan penuh rasa penasaran.

“Seminggu yang lalu ada orang yang datang ke rumah nawarin diri jadi donor kornea buat aku.Aku juga kaget.Ternyata masih ada orang baik kaya dia.Katanya,dia udah cukup banyak melihat hal-hal indah di dunia ini.Aneh sih!Tapi aku seneng.Soalnya aku bisa dapet donor kornea juga dan akhirnya bisa ngeliat lagi.Tapi kalo masalah siapa orangnya aku juga ga tau!Soalnya aku ga sempat ngeliat dia.Waktu selesai operasi orang itu udah pergi dari rumah sakit.”,ceritanya pada Evan yang masih terlihat tak percaya.

Sesaat dia merasa senang melihat gadis kecilnya itu sudah bisa melihat lagi.Namun,dia tiba-tiba terpikirkan gadis lain yang sangat ia sayangi.Ia ingin segera beranjak dari situ dan berlari menuju gadis itu berada.Tapi ia tak bisa,karena Putri terus memegang lengannya sambil terus menatapnya penuh kebahagiaan.

Perasaan Evan sangat dilema sangat itu.Ingin sekali ia melepaskan tangannya dari gadis itu,tapi hal itu mungkin akan menyakitinya yang baru saja merasakan kebahagiaan.Akhirnya,ia pun menahan diri untuk mengikuti kata hatinya dan tetap terdiam bersama gadis kecilnya itu.

Saat waktu kuliah sudah usai,Evan dengan rasa semangat yang sama sekali tak terlihat,berjalan menuju tempat mobilnya diparkir.Mobil Evan segera melaju setelah Evan menginjak pedal gas yang ada di bawah kaki kanannya.

Evan tak berkonsentrasi pada jalan yang sedang ia lewati,tetapi pikirannya melayang entah kemana.Sesaat terpikirkan kembali kejadian tadi siang di taman,sesaat kemudian terpikirkan tentang Dinda.Tiba-tiba saja lewat di depan mobil Evan,seorang wanita menyebrang jalan.Ia teringat akan pertemuannya kembali dengan Putri.Dan dia juga teringat akan Dinda yang biasanya berada di sampingnya.Rem pun diinjaknya dengan cepat sehingga membuat mobil berhenti sebelum akhirnya menabrak wanita penyebrang itu seperti kejadian sebelumnya.

Samar-samar ia melihat sosok wanita itu sangat ia kenali.Ia pun segera turun dari dalam mobil dan menghampiri wanita yang berdiri tepat di depan mobilnya.Ia mungkin masih shock mendengar suara decitan rem yang Evan injak mendadak.

“Maaf mba,saya ga segaja.Mba ga kenapa-napa?”,tanyanya pada wanita itu yang masih memunggunginya.

Namun,saat wanita itu membalikkan badannya sambil menjawab,”Ia mas saya ga kenapa-napa ko!”,Evan sangat terkejut.

Ternyata wanita yang hampir saja ia tabrak adalah gadis yang sangat ia cintai,yaitu Dinda.

“Dinda,kamu kemana aja?Kenapa kamu ada di sini sendirian?”,tanya Evan dengan semangat sambil memegang bahu Dinda.

“Hmm..kamu Evan?”,tanya Dinda pada lelaki yang berada tepat di hadapannya yang memang adalah Evan.

“Iya Nda,aku Evan!Masa kamu lupa sama aku.”,seru Evan pada Dinda sambil sedikit mengguncangkan bahu gadis itu.

“Ooh..maaf Van!Pantes aja suaranya kaya aku kenal.Aku ga kemana-mana ko.Aku di rumah aja!”,jawab Dinda dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang masih saja terlihat cantik.Bahkan terlihat lebih cantik.

“Kamu kenapa Nda?Ko kamu ga pernah kuliah lagi?Aku kira kamu udah pindah kota.”,tanya Evan pada Dinda.

“Aku ga bisa kuliah lagi Van..”,jawabnya dengan nada yang sedikit turun.Namun senyuman tetap tersungging manis.

“Kenapa Nda??Ko ga bisa kuliah lagi??”,tanya Evan lagi pada Dinda.

“Kamu ga liat aku ya?Aku udah berbeda sekarang.Berbeda dari aku yang dulu.Berbeda dari kamu.Aku…”,ujar Dinda dengan genangan air mata yang mulai terlihat di matanya.

“Aku buta,Van!”,lanjutnya dan air mata yang sudah tak tertahankan di pelupuk matanya pun akhirnya mengalir di pipinya.

Evan sangat sangat terkejut mendengarnya.

“Ko bisa?Putri udah bisa ngeliat lagi dan sekarang malah Dinda yang ga bisa liat.Apa yang udah terjadi sama Dinda?”,pertanyaan itu berkecamuk dalam hatinya yang tak sempat ia tanyakan langsung pada Dinda.Namun semua pertanyaan itu langsung di jawab oleh Dinda yang seakan tahu apa yang ada di pikiran Evan.

“Aku tahu banyak pengorbanan yang udah kamu lakuin selama ini.Aku sekedar membantu pengorbanan kamu yang belum sempurna.”,ujar Dinda dengan tenang.

“Maksud kamu apa Nda?”,tanya Evan yang semakin tak mengerti dengan semua ini.

“Aku donorin kornea mata aku buat gadis masa kecil kamu itu.Aku yakin,dia bakal bahagia kalo bisa ngeliat kamu.Jadi aku putusin buat donorin kornea mata aku seminggu yang lalu.”,jelas Dinda pada Evan.

“Apa?Kenapa kamu lakuin itu?”,bentak Evan pada Dinda yang masih bisa tersenyum di sela tangisannya.

“Aku bahagia kalo bisa bantu orang yang aku sayang.Aku seneng bisa bantu kamu keluar dari rasa bersalah kamu.”,ujar Dinda pada Evan sambil tangannya berusaha untuk meraba wajah Evan.

“Kamu…Dinda…Aku ga tau harus bilang apa!”,bentak Evan lagi pada Dinda.

Evan segera menuju rumah Putri setelah ia mengantarkan Dinda sampai depan pintu rumahnya.Kalimat apa saja yang akan ia bicarakan pada Putri telah ia siapkan sepanjang perjalanan.

Sesampainya Evan di rumah Putri,tak ragu ia mengatakan apa yang sudah ia rencanakan.Setelah selesai,ia kembali menuju rumah Dinda.

Mobil Evan pun terparkir di depan teras rumah Dinda.Dan tak lama,pintu pun terbuka dan muncul seorang wanita yang ta lain adalah ibunda Dinda.Evan meminta izin untuk bisa menemui Dinda.Sedikit waktu untuk berpikir pun segera berlalu dan ibu Dinda akhirnya mempersilakkannya menemui Dinda.

Evan langsung menuju kamar Dinda yang berada di lantai dua.Tanpa mengetuk pintu,Evan langsung membuka pintu dan masuk,menghampiri Dinda yang sedang duduk di balkon kamarnya.

Dinda yang mendengar suara derit pintu dibuka dan ditutup segera menoleh ke arah suara.

“Mamah?”,seru Dinda yang mengira bahwa yang masuk adalah ibunya.

“Ini aku Evan,Nda.Ada yang mau aku omongin sama kamu.”,ujar Evan sambil berdiri di depan Dinda yang tetap tak melihatnya.Walaupun sedekat apapun mereka.

“Oh,Evan.Mau ngomongin apa Van?”,tanya Dinda pada Evan sambil menatap ke arah lain,entah kemana.

“Aku bakal terus nemenin kamu sampai kapanpun.Ga akan pernah ninggalin kamu lagi.Aku janji.”,ujar Evan sambil berlutut di hadapan Dinda dan memegang tangan gadis itu erat.

“Tapi gimana sama Putri?Bukannya kamu ga akan ninggalin dia?Dia butuh kamu kan?”,tanya Dinda heran.

“Dia udah ga butuh aku.Sekarang dia udah punya lagi apa yang selama ini membuat aku terpaksa dekat dan lebih memilih dia.Sekarang ada yang lebih butuh aku.Yaitu kamu.”,ujarnya sambil mengelus pipi halus Dinda penuh kelembutan.

Dinda hanya tersenyum saat itu.Entah apa yang pastinya ia rasakan.Tapi sangat terlihat aura kebahagiaan melingkupi mereka berdua di bawah cahaya matahari yang mulai meredup.Seredup perasaan wanita yang berada di tempat lain yang memutuskan untuk pergi jauh-jauh dari kota itu.

Suatu ketika sebuah kegelapan akan diterangi oleh cahaya.Namun,ada kalanya cahaya terang itupun meredup dan menjadi sebuah kegelapan lagi.Begitulah kehidupan yang akan dan pasti dijalani oleh setiap manusia.

Menjadi sebuah cahaya bagi kegelapan adalah sebuah keindahan yang akan memberikan kebahagiaan dengan sedikit pengorbanan.

Pengakuan…

S

esampainya Evan di rumah Putri,ia langsung melangkahkan kakinya menuju ke bagian dalam rumah dan segera berbincang dengan Putri di ruang tamu setelah Putri mempersilahkannya masuk.Tanpa banyak berbasa-basi,Evan langsung mengutarakan apa yang hendak ia bicarakan pada Putri.Evan dengan hati-hati mengucapkan kata demi kata dengan butiran keringat yang mulai mengalir dari dahinya.Putri pun terkejut dengan apa yang sudah dikatakan Evan.Sama sekali tak pernah erbersit di benaknya bahwa Evan akan mengatakan itu.Air mata pun mengalir deras di pipi halus Putri.Suara isak tangis Putri yang semakin kencang mengundang ayahnya menghampiri mereka.

“Ada apa ini?Ko Putri nangis gini?”,tanya sang ayah sambil mendekap gadis manis itu.

“Maaf om,aku ga bisalagi lanjutin hubungan aku sama Putri.Aku udah memutuskan untuk mendapatkan apa yang aku emang seharusnya aku dapetin om.Lagian Putri juga udah dapet apa yang dia mau selama ini.Jadi aku rasa ini semua impas om.Maaf kalo udah bikin om kecewa.Tapi ini yang sebenarnya om.”,tutur Evan dengan gamblangnya.

Terlihat raut wajah sedih pada wajah ayah Putri.Tapi sepertinya ia cukup mengerti dengan apa yang Evan rasakan.Ia pun hanya bisa berdiam diri sambil terus mendekap Putri agar dia sedikit tenang.

“Evan,kenapa kamu gini sama aku?Apa salah aku?Apa karena mata ini kamu jadi pergi dari aku?Kalo emang ini alasannya,aku ga akan mau terima donor mata yang entah dari siapa ini.Aku lebih baik ga bisa liat,daripada aku harus kehilangan kamu.Evan,please..Jangan tinggalin aku…”,ujarnya sambil terisak.

“Kalo boleh jujur,aku mau nemenin kamu lagi selama ini emang karena kondisi kamu.Karena kamu begitu gara-gara aku.Aku ngerasa harus ngelindungin kamu.Tapi setelah kamu udah bisa liat lagi,aku merasa kamu ga perlu aku jagain lagi.Dan kamu tahu,siapa yang udah donorin matanya buat kamu?Dinda.Dia rela buta demi kamu.Dia ga mikirin dirinya sendiri.Jadi aku harap kamu rela juga ngelepas aku karena saat ini dia sangat butuh aku.Tolong Putri…”,ujar Evan sambil sedikit memohon.

Tangis Putri pun semakin pecah di bahu ayahnya.Ayah Putri pun segera menyuruh Evan pergi sambil terus membelai rambut putrinya itu yang kini sedang dirundung kesedohan yang amat sangat.

Evan pun segera pergi setelah berpamitan pada ayah Putri dan juga pada Putri yang walaupun tak digubrisnya.Dengan mantap,Evan melangkahkan kakinya memasuki mobil dan segera mengencangkan sit-belt dan langsung menginjak pedal gas.Mobil pun melaju dengan cepatnya menuju seseorang yang sangat ingin ia temui,Dinda.

Itulah yang Evan bicarakan pada Putri sebelum ia kembali pada Dinda,sang kekasih hati.

Tanpa Judul
Posted on February 8th, 2011 at 10:59 pm by annisa.suwandasari10

Awal Pertemuan

Hari ini merupakan hari pertama tahun ajaran baru dimulai.Semua anak-anak sekolah sibuk untuk menyambut hari pertama mereka kembali ke sekolah.SD,SMP,SMA,semuanya kembali beraktifitas seperti biasanya.Jalanan yang sebelumnya lengang,menjadi ramai kembali oleh anak-anak sekolah.

Canda tawa mengiringi perjalanan anak-anak menuju sekolahnya.Begitupun dengan ketiga sahabat yang terlihat sedang berjalan bersama menuju sekolahnya.Namun,di belakang mereka terlihat ada seorang siswi yang tak seperti mereka.Dia hanya berjalan dengan kepala menunduk dan wajah yang tak seriang ketiga sahabat yang tak jauh dari gadis itu serta tangan yang memegangi lengan tasnya yang tertumpu di bahu kirinya.

Tak jauh,terlihatah sebuah sekolah dengan cat berwarna hijau muda yang menghiasi gedung itu dan beberapa pohon pinus yang tertata rapih di halaman depan sekolah tersebut.Di samping gerbang sekolah itu tercantum nama sekolah tersebut.Sebuah sekolah menengah pertama ternyata.

Ratusan anak memasuki gerbang utama sekolah itu.Terlihat di depan gerbang,dua orang satpam yang sedang berdiri sembari memperhatikan siswa-siswa tersebut masuk.Ketiga sahabat itu serta seorang gadis yang berada di belakang mereka pun memasuki gerbang sekolah itu.Mereka semua adalah siswa sekolah menengah pertama tersebut.

Pintu gerbang ditutup tak lama setelah bel masuk berbunyi.Di tengah cerahnya pagi,siswa-siswa berbaris dengan rapih di lapangan untuk melaksanakan upacara,yang merupakan pembuka tahun ajaran baru.Upacara berjalan lancar dengan dipimpin seorang pemimpin upacara.Sesi demi sesi upacara pun terlaksanakan dengan baik.Sampai akhirnya penghormatan kepada pembina upacara.

Semua siswa berhamburan dari lapangan menuju kelas masing-masing.

Ketiga sahabat ini melihat ada seorang siswi yang sedari tadi hanya seorang diri tanpa seorang teman pun yang menemani.Akhirnya mereka memutuskan untuk menghampirinya.

“Hai..”,sapa salah satu dari ketiga orang tersebut sambil menepuk bahu kiri gadis itu.

Gadis itupun menoleh ke arah suara dan tepukan itu berasal.

“Hai juga…”,jawab gadis itu sambi menatap wajah ketiga orang tersebut secara bergantian.

“Kayaknya kami baru lihat kamu deh di sekolah ini.Kamu anak baru?”,tanya siswi yang tadi menepuk bahu gadis itu.

“Iya,aku anak baru.”,jawabnya dengan sedikit ragu.Takut-takut kalau mereka hendak mengerjainya seperti yang orang lakukan pada murid baru.

“Ooohh..pantes aja dari tadi kamu sendirian!Belum dapet temen ya?”,ujar salah seorang siswi yang lain.

Gadis itupun hanya menjawab dengan anggukan sambil menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya sehingga wajahnya tertutup oleh rambutnya yang indah.

“Nah,kalo gitu kamu temenan aja sama kita.Kenalin,aku Sofi,yang di sebelah kanan aku ini Wina,dan yang di sebelah kiri aku ini namanya Vega.”,tutur Sofi,salah seorang dari ketiga orang tersebut sambil mengulurkan tangannya.

Gadis itupun membalas uluran tangan Sofi sambil memperkenakan dirinya juga pada mereka,”Aku Amel.Seneng kenalan sama kalian”.

Mereka semua tersenyum satu sama lain dan berjalan bersama menuju kelas.

Bel istirahat berbunyi.Para siswa pun berhamburan keluar kelas menuju kantin sekolah yang seketika saja sudah dipenuhi oleh siswa yang hendak membeli makanan.Seruan berbagai pesanan terdengar jelas dari setiap siswa.Mereka berebut ingin mendapatkan apa yang mereka pesan.

Sial bagi beberapa orang yang telat sampai di kantin.Karena mereka takkan bisa dengan mudah membeli makanan di kantin yang penuh sesak.

“Waduh…gimana kita mau makan nih?Penuh gila…”,keluh Wina yang sedari tadi sudah memegangi perutnya karena lapar.

“Iya nih..gara-gara guru Bahasa Indonesia tadi lama banget sih!Saking semangatnya sampe lupa waktu..”,timpal Vega yang juga terlihat lapar.

“Ya udah,kalo kalian lapar makan kue yang aku bawa aja.Nih!Cukup buat kita berempat..”,ujar Amel pada ketiga teman barunya.

Terlihat kecerahan di wajah ketiga temannya itu.Merekapun segera mencari tempat yang nyaman untuk menyantap makanan yang dibawa Amel.

Akhirnya merekapun menemukan tempat yang pas untuk makan,yaitu taman sekolah.

“Nah,di sini aja!Sambil makan,kita ngeliat anak-anak cowok main futsal..Oke banget kan?”,seru Wina yang memang gila cowok .

“Duh…kamu ini,cowok mulu yang ada di pikiran kamu!Tapi boleh juga sih..hahaha”,seru Vega yang juga sama-sama gila cowok.

Merekapun berempat pun tertawa.

Amel segera membuka kotak makannya dan memakan kue bersama ketiga temannya yang sedari tadi sudah kelaparan.

“Eh,eh..liat tuh!Si Pangeran Lapangan..Ga pernah ilang ya gantengnya!”,seru Wina sambil terus mengunyah kuenya.

“Mana,mana?Ooh…itu!Iya,dia tetep aja ganteng.Malah tambah ganteng..Makin naksir aku sama dia!”,balas Vega yang juga ngefans sama cowok itu.

“Hmm…emang dia siapa?Ko disebut pangeran lapangan segala?”,tanya Amel yang tak tahu apa-apa.

“Kamu murid baru sih..jadi wajar aja kamu ga tau dia!Dia itu Radit,pangerannya lapangan.”,tukas Wina pada Amel.

“Dia itu yang paling bersinar diantara orang-orang lain yang ada di lapangan.Jadi dia kita julukin Pangeran Lapangan..”, jelas Vega pada Amel yang masih saja terlihat bingung.

Amel hanya bisa terdiam sambil terus mencerna semua penjelasan Wina dan Vega tentang cowok yang bernama Radit itu.

“Eh,aku mau ke toilet dulu ya..”,seru Amel pada ketiga temannya yang masih asik menikmati kuenya,

“Oke,oke..”,jawab mereka berbarengan.

Amel segera berlari dari taman menuju toilet.

“Eh,aku lupa tanya sama mereka dimana toiletnya.Aduh..bego banget sih aku!Hhhh…terpaksa aku cari sendiri deh!”,ujar Amel pada dirinya sendiri.

Kesana-kemari dia mencari toilet,namun tak kunjung ia temukan.Amel pun kelelahan hanya untuk mencari toilet yang seharusnya tak sesulit itu untuk ditemukan.Ia pun bersandar di dinding sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Disaat lelahnya itu ia masih terus menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari toilet.Semakin tak bisa ia menahan hasrat ingin buang air kecilnya.Ia pun meringis sambil terus berusaha menahan.Dia kembali berjalan dan akhirnya menemukan sebuah ruangan yang terlihatnya seperti toilet.Tanpa pikir panjang,ia pun segera memasuki ruangan tersebut yang ternyata sebuah ruang ganti.Ia tak menyadari itu.Ia terus saja mencari toilet di dalam ruangan tersebut yang akhirnya ia temukan.Langsung saja ia masuk dan segera membuang apa yang sejak tadi ia tahan.

“Aaah…lega!Coba dari tadi nih toilet di temuin,aku ga akan tersiksa buat nahan mpe meringis.”,ujar Amel sambil segera menyiram bekas ia buang air.Dan ia pun segera membuka pintu toilet dan keluar.Namun,sebelum ia berhasil keluar sepenuhnya dari toilet tersebut,ia mendengar suara anak laki-laki dari luar toilet.Ia pun segera mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam toilet.Ia pun terduduk di atas kloset.

“Duh,ada banyak anak cowok lagi di luar!Ko bisa sih?Emang ngapain mereka disini?Apa ini wc umum ya?Aaah..tapi mana mungkin di sekolah ada wc umum!”,ujar Amel dalam hati.

Ia benar-benar kebingungan kenapa bisa ada banyak anak laki-laki di tempat itu.Lalu bagaimana cara dia untuk keluar dari sana tanpa terlihat oleh para anak laki-laki itu?Benar-benar galau perasaan Amel saat itu.

“Duh,si Amel lama banget sih?Masa iya dia nyasar sih?”,seru Wina yang sedari tadi menunggu Amel bersama kedua temannya.

“Hmm…bisa jadi tuh!Dia kan anak baru di sini.Mungkin dia ga tau toiletnya dimana.”,timpal Vega menanggapi pernyataan Wina.

“Ya udah,mendingan kita cari dia aja.Bentar lagi kan bel masuk.”,ajak Sofi pada kedua temannya itu.

Mereka pun beranjak dari taman dan segera mencari Amel,walaupun mereka tak tahu harus mencari kemana.

“Hah,gila hari ini panas banget!Tapi tetep seru seperti biasa..”,ujar salah seorang anak laki-laki.

“Aku mau mandi aja ah!Gerah banget nih..”,ujar anak laki-laki lainnya.

Amel yang masih berada di dalam toilet semakin gelisah.Takut kalau dia sampai ketahuan.Dia pasti akan malu sekali kalau sampai benar-benar ketahuan.

Tiba-tiba,pintu toilet tempat Amel bersembunyi seperti ditarik dari luar.Lalu,terdengar suara anak lelaki yang mengeluh mengenai pintu yang tidak bisa dibuka itu.Karena memang terkunci dari dalam.

“Duh,ko pintunya ga bisa dibuka sih?Padahal udah kebelet banget nih..”,seru anak lelaki sambil terus berusaha membuka pintu itu.

Amel yang berada di dalamnya terus berdoa supaya pintu itu mendadak menjadi sekeras besi yang sudah terkunci kuat.

“Ya udah lah,pake toilet siswa aja!Daripada nanti tiba-tiba ada gas beracun yang keluar.Buruan sana!”,canda temannya pada anak lelaki itu.

Mereka semua tertawa ketika melihat temannya itu terlihat meringis sambil memegang perutnya yang sakit keluar dari ruang ganti dengan berlari.

“Eh,kita duluan ya!”,seru para anak lelaki pada seorang temannya yang kedengarannya sedang mandi.

“Oke..”,jawab anak itu sambil meneruskan membersihkan badannya.

Amel semakin tak sabar untuk segera bisa keluar dari sana.Ia sudah sangat pegal terus bersembunyi di toilet yang sempit.

Tak lama, suara air sudah tak terdengar lagi.Sepertinya anak lelaki itu sudah selesai mandi.Lalu,terdengar suara pintu loker dibuka dan ditutup.Lalu,hening.

Amel pun berpikir kini sudah tidak ada orang lagi,sehingga ia bisa segera keluar dari penderitaannya bersembunyi di dalam toilet.Dia pun dengan perlahan membuka pintu toilet dan memerhatikan keadaan sekitar.Memastikan bahwa tidak ada orang lagi disana.Dan sepertinya,ruangan itu memang sudah kosong.Hanya tinggal ia sendiri.Ia pun segera memutuskan untuk melangkahkan kakinya lebih jauh lagi keluar dari toilet.

Lega rasanya ketika berhasil keluar dari penderitaan.Namun,sebelum ia berhasil membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut,ada seseorang yang masuk kembali dan tepat berdiri di hadapannya.Amel sangat terkejut sampai teriakannya terasa tertelan.Anak laki-laki itupun sama terkejutnya dengan Amel.Mereka sama-sama berdiam diri sambil menatap satu sama lain.

Akhirnya,anak laki-laki itupun melangkah maju menuju kursi panjang yang ada di tengah ruangan.Dan ia kembali ke depan Amel yang berada di depan pintu keluar sembari berkata,”Aku mau ambil ini”,sebuah tas kecil ditunjukkan oleh laki-laki itu.Lalu anak laki-laki itupun berlalu dari hadapan Amel.

Amel yang sedari tadi berdiam diri tersadar dan segera berlari keluar ruangan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Braaakk…Amel pun menabrak orang.

“Nah,ini dia anaknya!Dari mana aja kamu,Mel?Kita cariin dari tadi.”,seru Vega begitu melihat orang yang menabrak mereka adalah Amel.

“Iya,kamu dari mana aja,Mel?Kamu nyasar ya?”,tanya Sofi pada Amel yang wajahnya terlihat merah ketika ia menurunkan tangannya dari wajahnya.

“Lho,muka kamu ko merah gitu sih,Mel?Kenapa kamu?Salah masuk toilet ya?”,canda Wina pada temannya itu yang wajahnya terlihat seperti tomat matang.

“Ssshhhhttt…kamu ini!Udah,mendingan kita langsung ke kelas.Udah bel masuk..”,ajak Sofi pada ketiga temannya saat mendengar bel tanda istirahat telah berakhir sambil merangkul Amel.

Pertemuan Kedua

Sepulang sekolah,Amel langsung menuju rumahnya padahal ia diajak oleh Sofi,Wina,dan Vega untuk berjalan-jalan.Tapi hari ini cukup melelahkan bagi Amel untuk bisa ikut berjalan-jalan.Ia lebih memilih untuk istirahat di rumah.Akhirnya,mereka pun berpisah di depan gerbang sekolah.

Setibanya di rumah,Amel segera berganti pakaian dan langsung menuju meja makan untuk makan siang.Namun,ternyata tidak ada makanan di meja.Karena tak ada yang memasak makanan untuknya makan siang.Kedua orang tuanya bekerja,dan ia tidak memiliki pembantu.Akhirnya,Amel pun memutuskan untuk pergi mencari makan keluar,walaupun ia sangat malas.Namun,ia terpaksa karena rasa lapar yang begitu memburunya.

Amel menuju sebuah rumah makan dekat komplek rumahnya.Ia pun segera memesan makanan dan memilih tempat duduk.Sambil menunggu pesanannya datang,ia menuju wastafel untuk mencuci tangan.Setelah itu,ia segera kembali ke tempat duduknya.

Namun,betapa kagetnya Amel ketika ia melihat sesosok anak laki-laki yang tadi berpapasan dengannya secara tak sengaja di sebuah ruang ganti.Amel langsung mengambil gerakan untuk menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang tergerai.Untungnya,anak laki-laki itu mengambil tempat duduk yang sedikit jauh darinya.

Setelah pesanan Amel datang,ia segera melahapnya dengan tujuan ingin segera pergi dari tempat itu untuk menghindari bertemu dengan anak laki-laki itu.

Dengan cepat Amel sudah menghabiskan makanannya dan ia segera membayar makanannya.Setelah mengambil kembalian ia segera berlari menuju rumahnya.Terasa sedikit tenang ketika ia sudah berada cukup jauh dari rumah makan itu.Amel pun memperlambat jalannya.

Dengan santai ia menelusuri jalan menuju rumahnya.Namun di tengah jalan,ia dikejutkan dengan cipratan air dari sebuah motor yang mengenai celananya.Amel pun mendadak berhenti sambil memandangi celananya dengan penuh kekesalan.Lalu,ada seorang laki-laki yang menghampirinya.Yang ternyata laki-laki itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang ia temui di ruang ganti.Betapa kagetnya Amel ketika menyadari itu.

“Maaf ya..aku ga sengaja”,ujar laki-laki itu pada Amel.

“O,o,ooh…ga apa-apa!Permisi..”,ujar Amel sambil segera berlalu dari hadapan laki-laki itu.

Ia berharap bahwa laki-laki itu tak mengingatnya sebagai seorang gadis yang ia temui secara tak sengaja di ruang ganti.Semoga saja,pikir Amel.Tapi memang hari itu sepertinya Dewa Fortuna sedang tak bersamanya.Sehingga ia pun terpaksa bertemu lagi dengan laki-laki itu.

Memalukan

Esok harinya,Amel berangkat ke sekolah seperti biasa.Setelah ia berpamitan pada kedua orang tuanya,ia langsung keluar rumahnya untuk segera berangkat sekolah.Amel berjalan kaki dengan santainya sambil menikmati udara pagi yang begitu segar.Amel menghirup dalam-dalam untuk bisa lebih merasakan lagi udara pagi itu.Amel terlihat sangat bersemangat pagi itu.Senyum manis selalu tersungging di wajahnya.Seperti sudah melupakan kejadian kemarin yang cukup memalukan.

Amel melangkahkan kaki dengan mantap menuju ruang kelasnya.Dan ia melambaikan tangan ketika ia melihat Sofi,Wina,dan Vega yang sudah berada di bangku mereka sambil berbincang-bincang. Amel pun segera menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Sofi.Ia pun ikut hanyut dalam pembicaraan khas cewek itu.Sampai akhirnya pembicaraan mereka terhenti karena guru Biologi sudah ada di depan kelas.

Amel mencatat semua hal-hal yang penting menurutnya dari penjelasan gurunya itu.Tanpa sedikit pun Amel melepaskan pandangan dan pendengaran dari gurunya seperti anak-anak lain yang sudah terlihat jenuh dengan materi kali itu.Amel tetap terlihat bersemangat.

Ketika bel istirahat berbunyi,semua siswa berteriak khas anak smp yang sudah sangat menantikan jam istirahat.Sebelum guru keluar,ada saja murid yang sudah berlari keluar kelas.Benar-benar anak smp.

Kali ini,berbeda dari hari biasanya.Sofi,Wina,dan Vega membawa bekal masing-masing seperti Amel.Merekapun membawa bekal mereka masing-masing menuju taman sekolah dan memakannya di sana seperti hari kemarin.

Mereka sangat menikmati bekal mereka masing-masing,walaupun masih saja saling mencicipi bekal yang lain.

Mereka menikmati bekal mereka sambil menonton anak laki-laki bermain futsal.Dan sudah pasti disana ada Sang Pangeran Lapangan yang sangat ingin dilihat oleh Wina dan Vega.

Wina dan Vega tak henti-hentinya berkomentar tentang permainan Sang Pangeran Lapangan.Walaupun tidak sepenuhnya itu yang mereka bicarakan.Lebih tepatnya,mereka membicarakan tentang penampilan Sang Pangeran Lapangan.

Amel yang berada di situ pun hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Wina dan Vega tanpa berani melihat secara langsung Sang Pangeran Lapangan.Karena Amel tiba-tiba menjadi teringat kembali kejadian yang sangat memalukan yang menimpanya kemarin.Amel terus makan sambil berkata dalam hati,”Kali ini aku ga akan salah masuk toilet lagi!Sekarang aku udah tau dimana toilet”.

“Woi,lempar bolanya kesini dong!”,seru anak lelaki dari lapangan.

Amel pun tersadar dari lamunannya karena suara itu.Ternyata di dekat kakinya sudah ada bola yang tanpa ia sadari kapan dan kenapa bola itu bisa berada di situ.

Amel yang masih terbengong karena belum sepenuhnya tersadar,hanya diam memandangi bola yang ada di dekat kakinya itu.Akhirnya,bola itupun diambil oleh sepasang tangan yang terlihat cukup besar.Yang sudah pasti bukanlah tangan seorang perempuan.Seketika,Amel menengadahkan wajahnya melihat siapa yang mengambil bola itu.Dan ternyata,lelaki itu lagi!

Amel semakin terdiam melihat lelaki itu di hadapannya.Sedangkan,Wina dan Vega sedang sibuk bersorak-sorak karena mereka bisa melihat lelaki itu dari jarak yang sangat dekat.Lalu,lelaki itu membalikkan badan ke arah lapangan.Namun,setelah beberapa langkah,lelaki itu berhenti dan membalikkan badan lagi ke arah kami berempat.Lalu dia berkata sambil tersenyum dingin,”Lain kali jangan masuk kesana lagi buat ngintipin kita”.Setelah berkata begitu,ia membalikkan badan lagi dan segera berlalu menuju lapangan.

Amel terdiam bagai batu.Tak bergeming ketika Wina dan Vega bertanya padanya apa maksud omongan lelaki itu.

“Mel,maksud Radit apa tadi?Kamu ngintip siapa?”,tanya Wina penasaran.

“Iya Mel,maksudnya apa?Jawab dong jangan diem aja..Amel!”,timpal Vega yang tak kalah penasaran.

“Hei,hei..sabar dong!Jangan kaya gitu sama Amel.Kasian dia malah jadi bengong gitu tuh!”,ujar Sofi pada kedua temannya yang sangat penasaran itu.

Amel tetap terdiam tanpa menjawab satupun pertanyaan dari Wina dan Vega.Tatapannya kosong ke arah lapangan tempat lelaki tadi bermain.Dia begitu kaget mendengar perkataan lelaki itu,yang ternyata adalah Sang Pangeran Lapangan.

Pertemuan-Pertemuan Selanjutnya

Setelah kejadian di taman,Amel merasa sangat malu.Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu.Dan akibat perkataan Sang Pangeran Lapangan yang sangat ambigu,membuat orang-orang berpikir yang tidak-tidak.Mereka berprasangka bahwa Amel adalah seorang wanita genit yang berani mengintip laki-laki,ataupun menyangka Amel memiliki kelainan jiwa.

Image baik Amel seakan hancur berantakan begitu saja akibat sebuah kalimat yang terlontar dari mulut seorang idola.Amel sangat merasa malu dan bingung harus melakukan apa supaya orang-orang berhenti berpikir yang tidak-tidak tentangnya.Namun,syukurlah ketiga temannya masih percaya padanya kalau dia tak seperti apa yang dipikirkan oleh banyak orang.

Amel sudah menceritakan semuanya pada ketiga temannya itu,dan tanpa ragu sedikitpun mereka langsung mempercayai perkataan Amel.Bahagianya Amel.Setidaknya,ia masih memiliki teman yang mau percaya padanya di tengah rumor tak sedap itu.

Hari-hari Amel kini dilalui dengan pandangan semua orang padanya di setiap kali ia berjalan di lorong sekolah,ataupun makan di taman bersama teman-temannya,bahkan saat Amel di toilet.Sangat tak nyaman.

Ketika Amel sedang berjalan di lorong sekolah sehabis ia dari perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam dua hari yang lalu,ia kembali berpapasan dengan Radit,Sang Penghancur Kehidupan.Bukan lagi Sang Pangeran Lapangan.

Mata mereka saling beradu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut masing-masing.Amel pun segera memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.Ia tak ingin lebih lama lagi melihat wajah Sang Penghancur Kehidupan itu.Segeralah ia berlalu dari hadapan Radit dengan ekspresi datar.

Sepulang sekolah,Amel pergi bersama teman-temannya ke sebuah mal untuk menghilangkan rasa penat yang sedang dialami oleh mereka,terutama Amel.

Makan-makan di sebuah kafe,jalan-jalan ke toko souvenir,bahkan nonton film pun mereka lakukan.Tak terasa sore hari menjelang.Mereka pun menyudahi kesenangan mereka hari itu dan kembali ke rumah masing-masing.

Di sepanjang perjalanan pulang,Amel terlihat sedikit lebih ceria dibandingkan saat di sekolah tadi.Kali ini,ia bisa tersenyum.

Setelah hampir sampai di rumah,sekitar satu rumah sebelum rumahnya,Amel melihat sesosok lelaki yang berdiri di depan rumahnya.Ia sangat terkejut saat tahu ternyata lelaki itu adalah Radit.

Emosinya memuncak,ia berpikir apakah tak cukup sudah membuatnya malu di sekolah dan sekarang hendak membuatnya malu juga di komplek rumahnya.Amel mempercepat langkahnya.Tak sabar ia untuk segera membentak Sang Penghancur Kehidupannya.

Namun,belum saja Amel mengucapkan satu patah kata pun,Radit sudah mencuri start untuk bicara.

“Ini..Saputangan kamu.Jatuh tadi waktu kita papasan di deket perpus.”,ujar Radit sambil mengulurkan saputangan berwarna biru laut dengan sulaman inisial namanya,yaitu A.

Amel yang tadinya hendak marah-marah,jadi terdiam.Tanpa berkata-kata,ia pun segera mengambil saputangan miliknya itu.

“Maaf ya,balikinnya lama.Soalnya,ga enak kalo mau balikin di sekolah.Keliatannya kamu marah sama aku.Jadi daripada sampe ribut di sekolah,lebih baik aku balikinnya di sini aja.”,ujar Radit dengan lembut.

Perkataannya itu sangat membuat Amel tersentuh.Ternyata ia tak sejahat yang ada di pikirannya.Namun,kembali Amel berpikir buruk tentang Radit.Mungkin saja itu karena ia malu harus mengembalikan saputangan miliknya itu dan bisa menjatuhkan harga dirinya sebagai idola.Makanya ia memilih mengembalikanya di sini.Ya,pasti begitu!

“Ya udah,aku pamit ya..”,ujar Radit memecahkan lamunan Amel.

Lalu,Radit pun segera berlalu bersama motornya.Menghilang di ujung jalan.Amel pun masuk ke dalam rumahnya.

Di Sekolah

Amel menyusuri lorong sekolah dengan langkah yang yang sedikit diseret.Amel terlihat tak bersemangat saat itu.Begitupun wajah Amel pun tak luput dari rasa tak semangat.Entah kenapa hari itu terasa begitu berat untuk dijalani.

Tiba-tiba saja,Amel dikejutkan oleh tepukan di kedua bahunya.Yang tak lain adalah Wina dan Vega,tak lupa juga Sofi.Wina dan Vega segera menarik kedua lengan Amel tanpa memeberikan kesempatan pada Amel untuk berkomentar.Sofi hanya mengikuti mereka dari belakang.

Mereka menarik Amel sampai tepat di depan mading sekolah.Wina dan Vega membaca pamflet yang tertempel di mading sambil menunjukkannya pada Amel.Amel pun membaca pamflet tersebut tanpa protes.

METAMORFOSIS 2011

Acara : Basket

Futsal

Bulutangkis

Tenis

Bagi yang berminat,segera daftar ke ruang OSIS.

Seleksi akan dilaksanakan tanggal 22 Juli.

Buruan daftar!!!

Amel yang sudah membaca itu hanya angguk-angguk kepala sambil menarik sedikit kedua sudut bibirnya.

“Ngerti ga kamu?Jangan cuma manggut-manggut aja..”,seru Wina sambil menyenggol bahu kiri Amel.

“Hmmmmm…..”,gumam Amel panjang.

“Hhhhh…..kalo ga ngerti tanya dong!Jangan cuma manggut-manggut aja..”ujar Vega yang mengerti maksud gumaman Amel.

Amel hanya tersenyum kecil melihat sedikit kekesalan yang terlihat di wajah Wina dan Vega.

“Gini ya..maksud dari pamflet ini tuh..”,ujar Vega menjelaskan namun terpotong oleh Sofi.

“Udah,aku aja yang jelasin!Metamorfosis itu acara tahunan sekolah kita.Yang di dalamnya da perlombaan di bidang olahraga.Biasanya sih kita juga ngundang sekolah lain.Jad kaya pertandingan persahabatan gitu.”,jelas Sofi pada Amel.

“Oooohhhh,gitu…..”,seru Amel sambil menganggukan kepalanya tanda mengerti.

“Terus kenapa tadi kalian tarik tangan aku?Cuma buat ngeliatin ini sama aku?Buat apa??”,lanjut Amel.

“Haduh….kamu ini!Maksud kita….yaaaa…..”,Wina pun bingung menjelaskannya.

“Ehm,gini..Maksud kita narik kamu ya buat nunjukin pengumuman ini sama kamu.Yang artinya ini suatu kebahagiaan bagi kita semua.”,ujar Vega segera melanjutkan setelah Wina tak bisa menjelaskan.

“Bahagia?Kenapa?”,tanya Amel lagi.

“Ya bahagialah..Kan kita bisa ngeliat banyak cowok keren!Terutama Pangeran Lapangan kita”,seru Wina menjawab pertanyaan Amel.

“Ooooohhh….Cuma itu!Aku kira apa.”,ujar Amel datar menanggapi pernyataan Wina.

“Apa?Cuma itu??”,seru Wina dan Vega berbarengan sambil membelalakkan mata.Tak percaya mereka mendengar itu.

“Haduh…kamu ini sebelas dua belas deh sama Sofi!Ga asik ah..”,ujar Wina kesal sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.

“Iya nih..”,lanjut Vega sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya udah yuk,Mel!Mending kita ke kelas..”,ajak Sofi pada Amel sambil merangkul bahu Amel dan menariknya menjauhi Wina dan Vega yang masih terlihat kesal.

Sofi hanya tersenyum simpul sambil melangkahkan kakinya menuju kelas.Yang segera disusul oleh Wina dan Vega dari belakang.

Metamorfosis

Hari besar yang dinantikan oleh siswa-siswa pun akhirnya tiba.Acara Metamorfosis 2011.Waaw!!

Acara yang dihadiri oleh beberapa sekolah lain pun terlihat begitu meriah dengan sekolah Amel sebagai tuan rumah seperti biasa.

Semua orang hilir mudik sibuk mempersiapkan diri untuk perlombaan yang mereka ikuti masing-masing.Berbagai seragam olahraga yang terlihat di seluruh penjuru sekolah menambah meriahnya kegiatan tahunan itu.Sekolah Amel pun terlihat menjadi lebih berwarna.

Gedung olahraga pun segera disesaki oleh siswa-siswa yang ingin menonton berjalannya setiap pertandingan.Amel,Wina,Vega,dan Sofi segera mencari bangku yang masih kosong untuk mereka tempati.Untung sajalah masih tersisa 4 bangku kosong untuk mereka yang letaknya tak begitu jauh dari barisan depan.Segera mereka duduk dan menanti mulainya pertandingan.

Suasana gedung olahraga saat itu sangat ramai.Sampai ada orang yang terpaksa berdiri di tepi pagar pembatas karena sudah tak mendapatkan tempat duduk.Hari itu memang sangat banyak orang yang hadir.Tak hanya dari sekolah Amel,tapi dari semua sekolah yang saat itu bertanding.

Berbagi hiasan menghiasi gedung olahraga hari itu.Berbagai spanduk dari setiap sekolah peserta pertandingan terpampang di sepanjang dinding gedung olahraga.Sangat meriah.

Tak lama,terdengar suara ketukan dari microphone.Saatnya sambutan dari Kepala Sekolah.Semua anak mendengarkan sambutan itu dengan tenang.

Peluit pun di tiup tak lama setelah semua sambutan selesai.Tanda pertandingan akan segera dimulai.Pertandingan pertama adalah basket.Sangat seru sekali pertandingan basket itu.Semua sorakan dari para penonton bergema.Menambah semaraknya pertandingan itu.

Setelah pertandingan basket telah mendapatkan dua sekolah yang akan maju ke babak final,pertandingan pun segera diganti oleh pertandingan futsal.Yang sudah sangat dinantikan oleh Wina dan Vega.

Pertandingan berjalan sengit antara sekolah Amel dengan sekolah-sekolah yang tak kalah hebat permainannya.Namun,akhirnya hasil pertandingan menunjukkan sekolah Amel berhasil menuju babak final.Wina dan Vega menjerit kegirangan.Walaupun belum tahu apa hasil akhirnya.

Amel merasa kehausan karena ikut berteriak-teriak saat pertandingan tadi.Jadi ia memutuskan untuk keluar sebentar dan membeli minuman.Sedangkan Wina,Vega,dan Sofi tetap di tempat menjaga kursi yang mereka tempati karena takut i tempati orang lain.Mereka hanya menitip minuman dan beberapa makanan kecil pada Amel.Amel segera pergi tanpa keberatan.

Sesampainya di kantin sekolah,Amel cukup terkejut.Karena suasananya yang sangat ramai.Ramai oleh siswa yang sehabis bertanding tadi.Banyak sekali lelaki di sana.Amel merasa sedikit malu,namun ia tak bisa kembali dengan tangan kosong.Akhirnya,ia memutuskan untuk menekan rasa malunya dan tetap melanjutkan langkah kakinya ke kantin.

Ia sangat sulit sekali untuk bisa membeli sesuatu di sana.Karena banyak lelaki yang berdesak-desakan di sana untuk membeli minuman.Amel hanya terpaku melihat kondisi itu dari belakang para lelaki itu.

Lalu,Amel dikejutkan oleh sebuah suara lelaki.Suara itu berasal dari belakang.Amel pun menoleh ke arah suara tersebut.

“Kamu mau beli apa?Sini biar aku yang beliin.Keliatannya kamu ragu gara-gara banyak cowo.”,ujar seorang anak lelaki menawarkan jasa.

“Eh…ini aku mau beli minuman sama sedikit cemilan.”,jawab Amel sedikit kaget.

“Oohh…Ya udah sini biar aku yang beliin.Tunggu ya..”,ujar lelaki itu lembut sambil segera ikut dalam desakan lelaki yang sedang mengantri untuk membelikan pesanan Amel.

Tak lama,lelaki itu segera keluar dari antrian dengan membawa pesanan Amel di tangannya.

“Nih,cepet kan!”,ujar lelaki itu sembari memberikan pesanan Amel dengan tersenyum.

“Emm,makasih ya.Maaf ngerepotin..”,ujar Amel yang segera menerima pesanannya.

“Sama-sama..”,jawab lelaki itu dengan tetap tersenyum ramah.

“Kalo gitu,aku balik lagi ya.Sekali lagi makasih banyak.”,seru Amel pada lelaki itu.

“Oke deh..”,jawab lelaki itu lembut.

Amel pun segera melangkah kembali menuju gedung olahraga dimana teman-temannya menunggu.

Wina,Vega,dan Sofi segera menikmati pesanan mereka yang telah dibelikan oleh Amel.

Lapangan kembali ramai.Sepertinya pertandingan akan segera dimulai kembali.Semua penonton bersorak menyambut kedatangan peserta pertandingan final basket.Pertandingan pun segera dimulai setelah suara peluit terdengar.

Amel yang sedang menikmati minumannya tiba-tiba tersedak ketika melihat sesosok lelaki yang sedang mendribble bola dan langsung melakukan shoot dari jauh.Dan masuk.Semua berteriak.Amel masih sibuk membersihkan minumannya yang sedikit tumpah ke roknya tanpa melepaskan pandangan dari sesosok lelaki yang tadi membuat ia tersedak.

Sofi yang melihat Amel membersihkan roknya,bertanya pada Amel,”Kamu kenapa,Mel?”.

“Eh,emm,itu..Cowok itu,tadi dia yang bantuin aku beliin semua minuman sama makanan ini.Soalnya tadi kantin penuh banget sama cowok.Jadi aku ga berani beli sendiri.Ga mau desek-desekan sama cowok.”,jelas Amel pada Sofi.

“Cowok yang mana,Mel?”,tanya Sofi pada Amel sambil melihat ke arah lapangan.

“Itu,yang itu.Yang pake kaos biru nomer 7.”,jawab Amel sambil menunjuk ke arah lelaki yang ia maksud.

“Kalian ngomongin apa sih?”,tanya Wina yang sedari tadi hanya sibuk berteriak-teriak.

“Ini,dia cerita kalo tadi dia ditolongin sama cowok yang pake kaos biru nomer 7 buat beli semua minuman sama makanan ini.”,jelas Sofi pada Wina yang terlihat penasaran.

“Hah?Cowok kaos biru nomer 7?Kamu di tolong dia?”,seru Wina sedikit tidak percaya.

“I,i,iya..Emang kenapa?”,tanya Amel bingung melihat ekspresi Wina.

“Woi,ada apa nih?Lagi pada cerita apa?Ko aku ga diajak sih?”,tanya Vega penasaran.

“Ga,masa tadi Amel bilang dia ditolong sama si cowok dingin itu sih?Itu lho,si Darwin.”,seru Wina pada Vega yang ketinggalan cerita.

“Hah?Serius?Ditolongin apa?”,tanya Vega lebih tidak percaya lagi.

“Lho,emangnya ada apa sih sama cowok itu?Lagian dia tadi cuma beliin aku pesenan kalian aja kok.”,tanya Amel yang terlihat sangat bingung melihat ekspresi Wina dan Vega.

“Aduh,Amel..Mentang-mentang kamu ini anak baru,jadi bener-bener ga tau apa-apa!Dia itu cowok yang paling susah buat dideketin.Dingin banget sama cewe!”,jelas Wina pada Amel.

“Masa sih?Tapi dia ramah banget ko sama aku.”,ujar Amel meyakinkan teman-temannya.

“Nah,itu dia!Aneh banget cowok super dingin kaya dia bisa baik sama kamu.Kamu kenal ya sama dia?”,tanya Wina penuh penasaran.

“Ga.Aku ga kenal sama dia.Ketemu juga baru tadi.”,jawab Amel.

“Waduh,waduh,ko bisa ya?Gimana caranya tuh,Mel?”,tanya Vega.

Amel hanya menjawab pertanyaan Vega dengan mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala.

Akhirnya pertandingan basket pun selesai.Dan pemenangnya adalah sekolah sang lelaki yang Wina dan Vega sebut dingin.Terlihat ekspresi senang dari semua peserta yang menang.Termasuk lelaki itu yang tak Amel keahui namanya.Amel hanya memandangnya dari kursi penonton sambil memikirkan perkataan Wina dan Vega.Apakah benar ia adalah orang yang dingin?

Pertandingan basket pun segera berganti dengan pertandingan futsal yang sudah sangat ditunggu oleh seluruh siswa sekolah Amel.Karena tim futsal sekolah Amel berhasil masuk ke babak final.

Pertandingan yang sangat seru berlangsung cukup sengit dan menarik.Bola terus bergulir kesana kemari megikuti arah tendangan dari para pemainnya.Sebuah gol pada menit terakhir telah menentukan bahwa sekolah Amel berhasil memenangkan pertandingan itu.Semua berdiri dan bersorak.

Acara Metamorfosis tahun itu berjalan lancar tanpa sedikitpun hambatan.Sukses besar bagi OSIS yang sudah merancang acara ini.

Semua orang berduyun-duyun keluar dari dalam gedung olahraga.Begitupun dengan Amel,Wina,Vega,dan Sofi.Amel berencana untuk segera pulang karena merasa lelah.Sedangkan ketiga temannya ingin berjalan-jalan duluke mal.Amel yang sudah dipaksa oleh mereka tetap menolak.

“Aku cape.Mau pulang aja.”,ujar Amel dengan wajah yang terlihat lelah.

“Hhh…oke deh kalo gitu!Kita pergi bertiga aja.Hati-hati di jalan ya,Mel”,seru Wina pada Amel sembari melambaikan tangannya.Yang diikuti oleh Vega dan Sofi.Amel pun membalas lambaian itu.

Pasca Metamormofis

Perayaan atas kemenangan yang berhasil di raih tim futsal sekolah Amel pun tak dapat dipungkiri.Esok harinya,tim futsal sekolah Amel mengadakan sebuah pesta yang cukup meriah di rumah Radit.Semua siswa diperbolehkan untuk datang.Wina dan Vega tak menyia-nyiakan kesempatan ini.Mereka pun mengikuti pesta tersebut dengan mengajak Amel dan juga Sofi.

“Udahlah,ikut aja.Lagian ini Cuma pesta biasa aja kok!Ga perlu dandan..”,bujuk Wina pada Amel yang masih terbaring malas di kasurnya.

“Aaaah…males!Kalian aja deh yang pergi.”,seru Amel pada ketiga temannya yang sudah membujuknya sedari tadi.

Amel yang tak berniat untuk menghadiri pesta tersebut pun akhirnya terpaksa menghadiri pesta tersebut dengan malas karena dipaksa oleh Wina dan Vega.

Sesampainya di tempat pesta,mereka langsung bergabung dengan anak lainnya yang sudah datang terlebih dulu.Amel yang masih malas,segera pergi meninggalkan ketiga temannya dan memilih duduk sendirian di kursi taman yang terlihat sepi suasananya.

“Hhhh…males deh ikut-ikutan pesta ga jelas kaya gini!Mending juga tidur di rumah.Hari minggu yang tak menyenangkan.”,keluh Amel diringi hembusan napas yang panjang.

“Ko ga ikut gabung sama yang lain sih?”,tanya sebuah suara yang sangat mengejutkan Amel.

Amel segera membalikkan badan mencari siapa sang pemilik suara.Dan ternyata orang itu adalah Si Cowok Dingin yang dikatakan oleh Wina dan Vega tempo hari.Sambil membungkukkan badan ke arah Amel,ia tersenyum manis.

“Ko kamu ada di sini?”,tanya Amel dengan wajah yang terlihat terkejut.

“Jelas lah aku ada di sini.Aku kan tinggal disini.”,jawabnya dengan santai sambil tersenyum.

“Oo..oohh…Tapi,bukannya ini rumahnya Radit?”,tanya Amel kebingungan.

“Hmm….iya,ini rumah Radit!Tapi aku juga tinggal disini.Aku sepupunya Radit.Kenalin,nama aku Darwin.”,ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Amel pun membalas uluran tangan itu sembari berkata,”Oh,nama aku Amel.”

Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain.

Nembak!!!!

Hari-hari di sekolah Amel semakin terasa tegang.Itu semua karena Ujian Nasional yang sudah semakin dekat waktunya.Hal yang selalu menjadi ketakutan tersendiri bagi para murid dan guru.

Semua siswa makin giat belajar untuk mempersiapkan diri menuju Ujian Nasional yang akan segera mereka hadapi.Amel sering mengadakan belajar kelompok bersama teman-temannya sepulang sekolah.Tempat mereka belajar pun berbeda-beda tiap harinya.Kadang di rumah Wina,kadang di rumah Vega,kadang di rumah Sofi,kadang juga di rumah Amel.

Mereka bertekad untuk mendapatkan nilai yang memuaskan saat Ujian Nasional nanti.Mereka berusaha keras tiap harinya.Untunglah Amel termasuk anak yang pintar.Sehingga dia bisa mengajari teman-temannya semua pelajaran yang akan dijadikan bahan Ujian Nasional.

Namun,ternyata Amel juga memiliki kelemahan di bidang pelajaran.Yaitu fisika.Ia tidak terlalu mahir dalam bidang itu.Sehingga ia pun tidak bisa mengajari teman-temannya.

“Yaah,Mel.Kamu yakin ga bisa ajarin kita fisika?Padahal ini yang paling sulit buat aku..”,keluh Wina dengan memasang wajah lesu.

“Iya Mel,padahal kita berharap banget kamu bisa ajarin kita fisika.Pelajaran yang lainnya juga kan kamu bisa.”,Vega menimpali semabari membuka halaman-halaman buku fisika yang ada di depannya dengan malas.

“Hmm..gimana kalo kita minta ajarin sama Radit aja?Setau aku dia pinter fisika.”,usul Sofi pada ketiga temannya yang terlihat tidak bersemangat.

“Hah?Masa sih?Darimana kamu tau?”,tanya Wina segera.

“Aku kan pernah sekelas sama dia.Jadi aku tau sedikit lah tentang dia!”,tukas Sofi.

“Waahh……bagus juga tuh idenya!Kita kan bisa minta diajarin sekalian ngeliat dia lebih deket.Kamu juga bisa sekalian pedekate sama Darwin,Mel.”,sindir Vega sambil menyikut Amel jail.

“Aaaah,kamu nih apaan sih!Aku sama Darwin kan biasa aja.Ga ada apa-apa!”,seru Amel menanggapi sindiran Vega yang masih tersenyum iseng.

Mereka semua jadi senang menyindir Amel sejak Amel terlihat makin dekat dengan Amel.Terlihat ketika suatu hari Darwin menunggu di depan sekolah Amel.Awalnya mereka tidak menyangka bahwa Darwin menunggu Amel.Namun,ketika Darwin memanggil Amel yang sedang berjalan bersama ketiga temannya melewati gerbang sekolah,mereka tahu bahwa Darwin sedikit menaruh hati pada Amel.Sejak saat itulah Amel menjadi bulan-bulanan teman-temannya.

Keempat sahabat ini segera menuju ke rumah Radit dengan menggunakan taksi.Karena jarak rumah Radit dari rumah Wina cukup jauh,yang saat itu dijadikan sebagai tempat belajar.

Wina dan Vega terlihat sangat bersemangat ketika mereka sampai di depan rumah Radit.Mereka pun segera masuk setelah dipersilahkan oleh pembantu yang ada di rumah Radit.

Tak lama setelah mereka menunggu di ruang tengah,Radit muncul dengan menggunakan setelan jeans dan T-shirt abu-abu yang bertuliskan Hudgens.

“Ada apa kalian semua dateng kesini?”,tanya Radit tanpa basa-basi.

“Dasar cowok!Basa-basi dulu kek’.”ujar Amel dalam hati.

“Ini kita mau minta diajarin fisika sama kamu.Setau aku kamu kan pinter di fisika.Jadi kita datang kesini.”,ujar Sofi membuka pembicaraan.

“Oh,itu.Oke,kalian mau diajarin yang mana?”,tanya Radit sambil segera mengambil posisi duduk ditengah.

Radit menjelaskan semua soal yang mereka tanyakan padanya dengan sangat lancar.Sepertinya yang dikatakan Sofi ada benarnya juga.Radit memang pintar dalam bidang fisika.

Di tengah-tengah keasikan mereka belajar,Darwin menghampiri mereka dan menyapa keempat cewek yang ada disitu.

“Hai..Kayanya serius banget!Lagi pada belajar ya?Belajar apa nih?”,tanya Darwin yang segera nimbrung dengan mereka.

“Kita lagi belajar fisika.Abis Amel ga bisa ngajarin kita!”,seru Wina sambil melirik ke arah Amel yang sejak tadi masih saja menulis.

“Ooohh..aku juga bisa lho kalo Cuma fisika.Kenapa ga minta ajarin sama aku aja.Radit kan orang sibuk!”,ujar Darwin dengan tersenyum manis pada keempat cewek yang ada di situ.Namun,Amel tetap tak memalingkan wajahnya dari buku yang ada di depannya.

“Waah…kamu juga bisa ya?Kenapa ga bilang-bilang sama kita?Kalau tau gitu,aku,eh kita minta tolong sama  kamu.”,seru Wina yang terlihat begitu senang bisa begitu dekat dengan Pangeran Dingin,bahkan ngobrol dengannya.

“Amel,kamu lagi ngerjain apa sih?Ko serius banget!”,tanya Darwin yang sedari tadi melihat Amel terus berkutat dengan bukunya.

Amel yang sedang serius,tetap mengerjakan apa yang sedang dia kerjakan sedari tadi.Tanpa memalingkan atau menjawab pertanyaan Darwin.Karena dia tak mendengarnya.

“Woi,Mel!Kamu ini.Ditanya tuh sama Darwin!Malah diem aja.”,seru Vega yang bersebelahan dengan Amel.

“Eh,apaan emangnya?”,tanya Amel kebingungan.

“Aduh,kamu ini bener-bener!Kamu tadi ditanya sama Darwin.”,seu Wina kesal pada Amel.

“Oh..Emang dia tanya apa?”,tanya Amel lagi dengan polosnya.

“Aaaaahhhh….bisa stress lama-lama!”,teriak Wina yang tambah kesal melihat kepolosan Amel.

Tapi Darwin malah tertawa melihat tingkah Amel yang menurutnya sangat lucu.Wina dan Vega merasa aneh melihat Darwin tertawa.Apalagi Amel.Dia makin kebingungan dengan apa yang terjadi.

Akhirnya,semua tertawa melihat tingkah masing-masing.Kecuali Radit.Dia tetap diam sambil memandangi buku yang sedang dipegangnya.

Keesokan harinya ketika pulang sekolah,Darwin datang lagi ke sekolah Amel.Kali ini dia tidak sekedar menunggu di depan gerbang sekolah.Tapi,dia masuk ke dalam sekolah dan menunggu Amel di depan lapangan basket.

Para siswi yang melihat Darwin begitu heboh.Mereka semua membicarakan Darwin sepanjang jalan.Namun,Darwin hanya tersenyum saja melihat para siswi yang sedari tadi melihatnya.

Ketika Darwin menoleh ke arah  munculnya para siswa yang pulang sekolah,ia melihat Amel dan teman-temannya.Ia pun langsung beranjak dari tempat ia menunggu dan segera menghampiri mereka.

“Hai…”,sapa Darwin pada Amel dan teman-temannya.

“Hai juga..”,jawab Wina dan Vega serempak.

“Ngapain kamu kesini lagi?”,tanya Wina tanpa basa-basi.

“Oh,ini,aku mau ketemu sama Amel.Boleh aku pinjem Amel sebentar?”,tanya Darwin lembut pada ketiga teman Amel.

“Ooh..boleh!Ambil aja nih!”,seru Vega sambil mendorong Amel ke arah Darwin.

Wina tak berkata apa-apa.Hanya memelototi Vega yang tadi mendorongnya dan mempersilahkan Darwin meminjamnya seperti barang.Tapi Amel tetap mengikuti langkah Darwin.

“Mel,bisa ga hari ini kita jalan-jalan sebentar?Ada yang mau aku omongin sama kamu.”,tanya Drawin pada Amel.

“Hmmmm….emang ga bisa ya kalo diomongin di sini?”,tanya Amel polos.

“Waduh,ga bisa Mel!Soalnya ini penting banget.Jadi ga bisa di omongin d tempat ini.”,jawab Darwin dengan sedikit berusaha meyakinkan Amel.

“Oooh…gitu!Ya udah deh kalo emang ga bisa diomongin di sini.Kita mau kemana?”,tanya Amel pada Darwin.

“Kita ke taman deket sini aja ya?”,ujar Darwin sambil menanyakan pendapat Amel.

“Hmm.oke deh!Ayo..”,seru Amel mantap.

“Oya,temen-temen,aku duluan ya.”,teriak Amel pada ketiga temannya yang ada di belakang.

“Oke deh!”,jawab mereka serempak.

Amel pun mengikuti Darwin menuju taman dekat sekolah.Sesampainya mereka di sana,mereka segera duduk di kursi taman yang menghadap ke arah air mancur yang terlihat begitu segar di siang yang panas itu.

“Jadi apa yang mau kamu omongin?”,tanya Amel segera membuka pembicaraan.

“Hahahaha…kamu nih emang ga sabaran ya?”,Ujar Darwin sembari memegang perutnya karena sakit akibat tertawa.

Amel hanya diam melihat reaksi Darwin yang terlihat begitu menganggapnya lucu.

“Jadi gini,”,Darwin pun membuka pembicaraan,”aku mau bunuh kamu!”.

“Hah???”,terlihat ekspresi kaget di wajah Amel.

Darwin pun tertawa lagi,lalu berkata”Aduh…kamu ini lucu banget sih!Mana mungkin lah aku ngajak kamu ke sini buat bunuh kamu.”,ujarnya sambil terus tertawa.

“Huuuffft..aku kira kamu serius!Udah ah jangan becanda lagi.Sebenernya kamu mau ngomong apa sih?”,tanya Amel penasaran.

“Emmmm…..aku suka sama kamu,Mel!”,ujar Darwin.

Sekarang giliran Amel yang tertawa mendengar perkataan Darwin,lalu berkata”Aduh…kamu tuh ya!Jangan becanda terus dong!Serius dikit napa.”,seru Amel dengan wajah memerah karena tertawa.

“Aku serius,Mel!Aku ga becanda sekarang.Aku suka sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku.”,seru Darwin berusaha meyakinkan Amel yang menganggapnya bercanda.

Amel pun terdiam.Sepertinya ia sadar bahwa yang diucapkan Darwin adalah benar.Bukan hanya sekedar bercanda.

Amel terlihat bingung harus menjawab pernyataan Darwin yang begitu mendadak baginya.Sama sekali tak terpikir olehnya jika Darwin akan menyatakan cinta saat itu.

Kegalauan berkecamuk di hatinya.Ia benar-benar tak tahu harus mengucapkan apa.Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya saat itu.Seperti terkunci rapat mulutnya saat itu.

Darwin yang menyadari kebingungan Amel pun segera menenangkannya dengan berkata,”Ya udah,aku ga maksa kamu buat jawab sekarang ko.Kamu pikitin aja dulu.”

Amel tetap tak bisa berkata apa-apa mendengar perkataan Darwin.Ia hanya mengangguk pelan.

Lalu,Darwin pun mengajak Amel pulang.Karena ia tahu saat itu Amel membutuhkan waktu untuk sendiri.Mereka pun segera meninggalkan taman itu.

Tanpa berganti pakaian,Amel langsung merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamarnya.Ia menatap langit-langit kamarnya yang terlihat putih bersih dengan tatapan kosong.Ia masih terpikirkan pernyataan cinta Darwin yang sangat membuatnya bingung.Sekiranya apa yang harus ia katakan pada Darwin.Apa jawaban yang harus ia berikan pada Darwin nanti?

Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya saat itu.Sampai ia tertidur siang itu.

Diskusi

Esok harinya,Amel berangkat sekolah seperti biasanya.Namun,masih terlihat sedikit kebingungan di wajah Amel.Pernyataan cinta Darwin masih memenuhi benaknya hingga pagi itu.Entah apa yang harus ia katakan pada Darwin sebagai jawaban.Ia masih tak memiliki jawaban yang pasti hingga saat itu.

“Teeeeeeet…..Teeeeetttt……Teeeetttt……”,bel tanda masuk kelas pun berbunyi dan membuyarkan lamunan Amel.Amel yang baru saja melewati gerbang sekolah segera berlari menuju kelasnya.Ia tak mau sampai terlambat di pelajaran pagi itu.

Amel berusaha berkonsentarsi di pelajaran pagi itu.Namun,pikirannya masih tetap saja melayang entah kemana.Amel kesal dengan sikapnya hari itu.Wajahnya pun makin terlihat masam.Teman-temannya pun bingung melihat sikap Amel pagi itu yang terlihat berbeda.

“Mel,kamu kenapa sih?Ko kayanya gelisah banget..”,tanya Sofi yang sangat penasaran dan khawatir dengan sikap Amel pagi itu.

“Emmm,,aku ga apa-apa ko!”,jawab Amel singkat.

“Kalo ga kenapa-kenapa,kenapa kamu grasak-grusuk terus dari tadi?Bukan Amel yang biasanya.Cerita dong sama aku.”,ujar Sofi lembut pada Amel.

“Emmm,,ya udah nanti pas istirahat aku ceritain deh!”Jawab Amel singkat lagi sambil tetap mengarahkan pandangannya pada guru yang sedang mengajar pagi itu.

Sofi pun mengangguk tanda mengerti.Ia pun kembali berkonsentrasi pada pelajaran pagi itu.

Selepas bel tanda istirahat berbunyi,Amel dan teman-temannya segera keluar kelas dan menuju halaman sekolah tempat mereka biasa beristirahat sambil menikmati bekal masing-masing.Di sanalah Amel bercerita tentang apa yang terjadi kemarin antara dirinya dan Darwin pada ketiga temannya yang sudah sangat penasaran ingin segera mengetahui cerita yang Amel janjikan.

Sofi,Wina,dan Vega mendengarkan cerita Amel dengan seksama.Mereka bertiga terlihat sangat serius dalam mendengarkan dan memahami cerita Amel.Namun,mereka bertiga terkejut ketika mendengar bagian Darwin yang menyatakan cinta pada Amel.Sontak mereka pun berteriak berbarengan.Bahkan Sofi yang biasanya sangat datar dalam berekspresi pun ikut terkejut.

“Apa????”,seru mereka bertiga berbarengan.

“Nah,itu yang bikin aku gelisah dari tadi!Aku ga tau harus ngomong apa sama Darwin hari ini.Soalnya hari ini aku janji buat ngasih jawaban.Menurut kalian gimana?Bantu aku ya?Pliiisss…”,ujar Amel dengan memohon pada teman-temannya untuk membantunya memecahkan masalahnya kali itu.

“Waah…kalo urusan itu,aku angkat tangan deh,Mel!Aku juga ga tau harus kasih saran apa.”,seru Wina sambil benar-benar mengangkat kedua tangannya.

“Aku juga sama,Mel!Maaf aku ga bisa kasih saran.Susah kalo udah urusan perasaan.”,seru Vega segera setelah Wina berpendapat.

“Huhhh….kalo kamu gimana Sofi?Menurut kamu aku harus jawab apa?Bantu aku ya?Pliiiissss….”ujar Amel sambil mengatupkan kedua telapak tangannya,tanda memohon pada Sofi.Ditambah lagi dengan wajah yang mengiba.

Sofi yang kasihan melihat Amel saat itu pun memberikan pendapatnya,walaupun ia tak tahu pendapatnya benar atau salah.

“Hmmm…sekarang aku tanya,gimana perasaan kamu sama Darwin?Terus gimana rasanya waktu kamu ditembak sama dia?”,tanya Sofi memulai pendapatnya.

Amel terlihat sedikit berpikir untuk bisa menjawab pertanyaan yang Sofi berikan.Tak lama,ia pun memberikan jawaban.

“Aku juga ga tau gimana perasaan aku.Waktu Darwin nembak aku pun,aku ga paham gimana perasaan aku.Yang jelas aku ngerasa bingung dan jadi mikirin tentang dia terus.”,jawab Amel dengan wajah yang semakin terlihat bingung.

“Hmmm…kalo gitu,aku ambil kesimpulan aja kalo kamu tuh punya perasaan juga sama Darwin!Tapi belum sebesar apa yang dirasain Darwin sehingga belum terlihat.”,ujar Sofi berkesimpulan.

“Hmmm…masa sih aku juga punya perasaan yang sama kaya Darwin?”,tanya Amel yang sedikit tak yakin dengan kesimpulan Sofi.

“Yaaa…menurut aku sih gitu!Terserah kamu mau percaya atau ga.”,jawab Sofi dengan penuh ketenangan.

“Ok.Sekarang kita anggap kesimpulan kamu bener.Terus apa yang harus aku lakuin?Aku harus jawab apa?”,tanya Amel lagi pada Sofi.

“Ya kamu jawab iya lah!Bilang kalo kamu mau jadi pacarnya dia.”,jawab Sofi  atas pertanyaan Amel yang seharusnya sudah Amel ketahui jawabannya tanpa harus ditanyakan.

“Tapi aku ga mau pikiran aku terpecah.Sekarang kan udah mau UN!Gimana dong?”,tanya Amel lagi yang sedikit membingungkan Sofi dalam menjawab.

“Ya udah,gini aja.Kamu bilang sama dia,kamu mau terima dia tapi setelah UN.Gampang kan?”,seru Sofi pada Amel yang serius menunggu jawaban dari Sofi.

“Hmmmm…gitu ya?Oke deh,aku pake saran dari kamu.Soalnya aku ga punya jawaban apa-apa buat semua masalah ini.”,ujar Amel menyetujui saran yang diberikan Sofi.

“Siip deh!Sekarang masalah udah selesai.Jadi kamu ga boleh gelisah lagi!Ok?Oya lain kali kalo punya masalah,cerita sama kita.Kita pasti bantu semampu kita.”,ujar Sofi pada Amel yang sekarang terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Kini senyum Amel terlihat lagi dari bibirnya yang mungil.Teman-temannya pun turut senang dan tersenyum karena permasalahan yang melilit Amel telah terselesaikan dengan cara berdiskusi.

Nanti….

Sepulang sekolah,Amel langsung menuju taman tempat ia dan Darwin janji untuk bertemu.Amel akan segera mengungkapkan jawaban apa yang akan diberikan pada Darwin setelah sesampainya ia di sana.Amel setengah berlari untuk menuju taman itu.Selain karena teriknya matahari yang membuat Amel merasa tak nyaman,ia juga sudah tak sabar untuk melepaskan semua beban yang ia rasakan.

Terlihat Darwin yang sudah menunggu Amel di bangku taman.Darwin yang melihat Amel sedang menuju ke arahnya pun tersenyum lembut pada Amel dan segera bangkit dari duduknya.Amel pun balas tersenyum.

“Maaf ya aku lama.Tadi agak telat keluar dari kelas gara-gara ada pengumuman dulu dari ketua kelas.Kamu udah lama ya nunggu di sini?”,ujar Amel menyesal atas keterlambatannya.

“Ga ko.Aku juga baru nyampe.Ya udah,kamu duduk dulu.Aku mau beli minuman.”,ujar Darwin yang menyadari kelelahan Amel.

Amel pun hanya menurut dan langsung duduk di kursi taman sembari mengatur napasnya yang terengah-engah.

Tak lama,Darwin kembali dengan dua buah minuman kotak dingin di tangannya.Darwin memberikan satu pada Amel.Amel pun langsung menerimanya dan segera meminumnya.Rasa haus Amel akibat kepanasan pun sedikit berkurang.

“Udah seger lagi?Atau masih kurang?”,tanya Darwin sedikit menggoda Amel sambil menahan tawanya.

“Udah cukup ko.Makasih ya.”,jawab Amel sambil tersenyum.

“Barangkali masih kurang,tuh di belakang kamu ada air banyak banget!”,canda Darwin sambil menunjuk air mancur yang ada di belakang mereka.

Mereka pun tertawa bersama sejenak.Lalu,Darwin segera membuka pembicaraan.

“Hmmm…jadi gimana jawaban kamu?”,tanya Darwin pada Amel yang masih memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.

Hening sejenak di antara mereka.Lalu,Amel pun bicara.

“Gini,aku amu terima kamu tapi setelah UN.Soalnya aku ga mau pikiran aku terpecah.Sekarang ini kau mau konsentrasi buat UN.Gimana?”,ujar Amel dengan memberikan kesempatan juga pada Darwin berpendapat atas jawabannya.

“Oooohhh…gitu!Ya udah,ga apa-apa ko.Aku tunggu kamu sampe kelulusan.”,ujar Darwin penuh keyakinan.

Akhirnya,sebuah keputusan sudah mereka ambil.Mereka berdua pun tersenyum satu sama lain.

Pengumuman

Hari itu,semua ank kelas tiga berkumpul di aula sekolah bersama orang tua mereka masing-masing.Semua siswa mengenakan dresscode hitam putih dan dasi hitam.Semuanya terlihat tegang hari itu.Banyak siswa yang terlihat gelisah.Ada yang menggenggam saputangan hingga kusut,ada yang berdoa,bahkan ada yang menangis.

Namun,semua hal yang tengah dilakukan para siswa yang menunjukkan kegelisahan mereka segera terhenti setelah Kepala Sekolah telah naik podium dan segera memberikan sambutan.Semua orang di aula itu mendengarkan sambutan Kepala Sekolah dengan baik.Tiba saatnya akhir sambutan Kepala Sekolah yang akan mengumumkan tentang kelulusan siswa kelas tiga tahun ajaran itu.Semua siswa kembali tegang dan cemas.

“Presentase kelulusan tahun ini adalah……”,perkataan Kepala Sekolah terputus di kata itu yang semakin membuat para siswa tegang.Lalu,Kepala Sekolah kembali melanjutkan perkataannya,”,adalah….100%!”,seru Kepala Sekolah dengan lantang yang membuat para siswa berlonjak kegirangan.Terkembang senyuman di wajah Kepala Sekolah dan semua orang yang hadir.Tepuk tangan riuh menggema di aula sekolah saat itu.

Pemberian surat kelulusan dan pengalungan medali pada semua siswa pun berjalan lancar.Semua siswa yang telah mendapatkan surat kelulusan dan medali yang terkalung di leher mereka masing-masing langsung keluar dari aula sekolah untuk berfoto-foto di luar bersama sanak keluarga dan teman-teman mereka.Amel dan teman-temannya pun tak menyia-nyiakan saat itu.Mereka langsung mengabadikan moment hari itu dengan sebuah kamera digital milik mereka masing-masing.

Hari kelulusan itu sekaligus sebagai hari perpisahan bagi semua siswa.Karena belum tentu mereka akan bisa kembali satu sekolah dengan teman-teman mereka.Mungkin ada yang keluar kota atau bahkan keluar negeri untuk melanjutkan SMA.Kebanyakan siswa yang ada di sana terlihat sedih bahkan ada menangis sambil saling berpelukan yang mungkin adalah teman terdekatnya.Namun,tak begitu bagi Amel,Sofi,Wina,dan Vega.Mereka terlihat santi walaupun hari itu merupakan hari perpisahan.Itu semua karena mereka sudah terdaftar di satu sekolah yang sama.Sehingga mereka akan selalu bertemu dan tak perlu bersedih.

Awal Masa SMA

“Hai,bareng ke kelasnya!”,seru Amel sambil melambaikan tangannya pada Sofi yang sudah memasuki gerbang sekolah lebih dulu.

Sofi pun tersenyum dan menghentikan langkahnya untuk menunggu Amel yang sedang menuju ke arahnya.Lalu,mereka pun berjalan berbarengan menuju kelas mereka di pagi yang cerah itu yang merupakan hari pertama Amel dan teman-temannya yang lain yang merupakan angkatan baru mengenakan seragam putih abu.Dimulailah masa-masa SMA Amel dan teman-temannya.

Amel sekelas dengan Sofi,sedangkan Vega sekelas dengan Radit.Dan Wina sekelas dengan Darwin.Ya,kali ini Amel berada di sekolah yang sama dengan Darwin.Takdir telah mempertemukan mereka semua di satu sekolah yang sama.

Saat istirahat,Amel pergi ke kantin bersama Sofi untuk makan siang.Mereka bertemu dengan Vega dan Wina yang telah lebih dulu tiba di kantin.Mereka memang sudah janjian untuk makan siang bersama di kantin.Lalu,mereka pun segera memesan makanan setelah menempati salah satu meja di kantin itu.

Tak lama,pesanan mereka pun datang dan mereka segera menyantap makanan yang telah mereka pesan.

“Eh,hari ini kita main ke mal yuk?Kan udah lama banget kita ga jalan bareng.”,ajak Vega pada teman-temannya yang sedang menikmati makanannya.

“Hmm,boleh juga tuh!Refreshing..”,seru Wina menambahkan.

“Boleh deh.Kapan?”,tanya Sofi langsung menyetujui.

“Kalo siang ini gimana?Abis pulang sekolah.Sekalian pamer seragam baru di mal.”,seru Vega sambil tertawa.

“Oke deh.Nanti siang,pulang sekolah!”,seru Sofi menanggapi tawaran Vega.

Amel hanya mengangguk setuju menanggapi ajakan Vega sambil terus menikmati makanannya tanpa bicara.

“Eh,Mel!Tuh,pangeranmu dateng!”,seru Wina sedikit berbisik pada Amel yang tepat ada di depannya.

Amel terdiam sejenak,lalu ia menoleh ke belakang.Ia melihat Darwin menuju ke arahnya.Ia lah yang Wina maksud sebagai pangeran Amel.

Amel telah memulai hubungannya dengan Darwin tepat sehari setelah hari kelulusan.Ketika itu,Amel yang sedang bersantai di rumahnya dikejutkan oleh tamu yang datang ke rumahnya,yang tak lain adalah Darwin.Amel terkejut melihat Darwin ada di depan pintu rumahnya.Darimana Darwin tau rumahnya?Itulah yang ada di pikiran Amek ketika itu.Namun,pertanyaan itu segera terjawab ketika terlihat Radit di depan gerbang rumah.Rupanya,Radit yang memberitahu dan mengantar Darwin menuju ke rumahnya.

“Hai..Maaf ya aku tiba-tiba dateng ke rumah kamu!Aku Cuma pengen tau rumah kamu aja.Jadi aku minta Radit buat anterin aku ke rumah kamu.Ga apa-apa kan aku ajak dia kesini?”,ujar Darwin pada Amel yang masih terlihat tak percaya akan kehadiran Darwin.

“Emm,iya ga apa-apa ko!Ajak aja dia sekalian masuk.Kan panas kalo di luar.Aku mau ambil minuman dulu ya.”,ujar Amel pada Darwin.

Amel pun masuk ke dalam rumah mengambil minuman untuk Darwin dan Radit.Darwin pun memanggil Radit untuk ikut masuk ke dalam rumah.Radit pun hanya menurut.

Amel kembali dari dapur dengan nampan berisi tiga gelas minuman jeruk dan beberapa toples yang berisi cemilan.Amel meletakkannya di meja tamu dan mempersilakkan mereka untuk menikmatinya.

“Emm,gini Mel!Sebenernya aku dateng ke sini juga buat nanyain tentang janji kamu.Gimana?”,tanya Darwin langsung pada inti masalah yang sudah Amel duga sebelumnya.

“Emmmm,,tentang janji itu….ya sekalinya janji tetep janji kan?Aku bakal tepatin ko.”,ujar Amel lembut dan terliahat agak malu menjawab pertanyaan Darwin karena di samping Darwin ada Radit yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.

Radit pun merasa tak enak mendengarkan pembicaraan mereka berdua.Namun,Radit berusaha untuk menahan itu semua sampai akhirnya Darwin memutuskan untuk segera pulang setelah selesai membicarakan hal yang ingin ia tanyakan pada Amel.Sejak itulah,Amel dan Darwin berpacaran.

“Hei,lagi pada makan apa nih?”,sapa Darwin pada Wina,Vega,Sofi,dan tak lupa pada Amel.

“Hei,gabung sini!Kamu mau pesen apa?Biar Amel yang pesenin.”,canda Wina pada Darwin dan Amel.

Amel yang merasa namanya dibawa-bawa pun langsung melotot ke arah Wina.Mereka semua pun tertawa.

“Ga usah,aku belum laper ko!”,ujar Darwin lembut sambil tersenyum.

“O iya,nanti siang kita boleh pinjem Amel buat diajak jalan-jalan kan?Kalo kamu mau ikut juga boleh ko!Sekalian buat jagain Amel.Soalnya dia suka nyasar di mal!”,canda Wina lagi pada temannya itu yang semakin merengut saja mendengar perkataan Wina.

“Boleh aja ko!Tapi kayanya aku ga bisa ikut deh.Soalnya aku ada latihan basket.Lagian ga enak kan kalo ganggu cewe-cewe yang lagi pada ngumpul.Nanti malah jadi ga asik!”,seru Darwin yang sangat mengerti kebiasaan para perempuan.

“Hahaha…kamu tau aja deh Darwin!Pengertian banget sih kamu.Beruntung deh Amel yang polos ini bisa dapetin cowo kaya kamu!”,seru Vega yang sekarang pun turut meledek Amel.Amel pun semakin melipat wajahnya.Namun,hal itu semakin membuat teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.

“Udah,kasian tuh si Amel!Diledekin mulu sama kalian berdua.”,bela Sofi.

“Hahaha…iaya,iya deh!Kalo Sofi udah bilang jangan,kita ga akan lakuin lagi ko.Tapi nanti lagi kita ledekinnya!”,seru Wina sambil melanjutkan tawanya.

“Teeeeetttt…teeeeettttttt……teeeeeeetttt”,bunyi bel tanda waktu istirahat telah habis dan saatnya para siswa untuk masuk kembali ke kelas masing-masing.

“Eh,udah bel tuh!Masuk yuk..”,ajak Sofi pada Amel dan teman-temannya yang lain.

Mereka pun berpisah di kantin menuju kelas mereka masing-masing.

Tak Seharusnya Ada

Hubungan Amel dan Darwin berjalan lancar,tanpa hambatan sedikit pun.Mereka pun dinobatkan sebagai pasangan kekasih yang paling harmonis dan paling serasi di sekolahnya.Banyak orang yang iri pada hubungan mereka berdua yang sangat tentram.

Darwin hanya bisa tersenyum saat semua pasang mata melihat dengan pandangan iri ketika ia sedang bersama Amel.Amel dan Darwin bagaikan dua bintang yang sangat terang.Terlebih ketika dua bintang itu sedang bersama.Kemanapun mereka berdua pergi,tiap pasang mata akan selalu mengikuti mereka.

Namun,keadaan itu agak membuat Amel merasa tak nyaman.Ia seperti diikuti kemanapun ia melangkah.Untungnya,ia tak sekelas dengan Darwin.Hal itu cukup membuat sedikit bernapas lega.

Suatu hari,ada mata pelajaran olahraga yang mewajibkan seluruh anak kelas tiga untuk mengikuti tes renang.Amel yang tak bisa berenang pun harus mengikutinya.Entah apa yang akan dia lakukan saat  tes renang.Apakah berusaha ataukah menyerah saja?

Semua siswa akan kebagian tes renang.Urutannya sesuai kelas dan nomor absen.

Ketika giliran kelas XII IPA 1 untuk tes,pinggir kolam renang dipenuhi oleh orang-orang,terutama perempuan.Karena Sang Pangeran Lapangan berasal dari kelas itu.Amel yang merupakan anggota yang tidak menyukai Radit,yang anggotanya sepertinya hanya Amel,hanya terdiam di kursi menunggu giliran.

Setelah XII IPA 1 selesai,tiba giliran kelas XII IPA 2,kelas Amel.Amel merasa takut ketika tahu gilirannya sudah tiba.Bagaimana ia bisa mengatasi tes ini sedangkan ia tak bisa berenang.Ia sangat ingin turun dan mengurungkan niatnya untuk ikut tes.Namun,ia sudah terlanjur dalam posisi siap.Sehingga sulit untuknya turun dari sana.

Ketika peluit di tiup,semua anak yang sudah bersiap langsung melompat ke dalam air.Begitupun dengan Amel.Semua anak langsung meluncur setelah berada di dalam air,sedangkan Amel tidak terlihat muncul di permukaan.Tidak ada yang menyadari hal itu.Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam tes renang tersebut.

Namun,Radit yang kebetulan berada dekat dari tempat Amel melompat tadi,segera menyadari bahwa Amel tenggelam.Dengan sigap,Radit melompat ke dalam air yang cukup membuat orang-orang yang sedari tadi memerhatikan Radit,termasuk Wina dan Vega terkejut.Mereka bertanya-tanya kenapa tiba-tiba saja Radit melompat ke dalam kolam renang.

Di dalam kolam,dengan segera Radit meraih tangan Amel dan segera menariknya ke permukaan.Wina dan Vega terkejut saat mengetahui bahwa orang yang ditolong Radit adalah Amel.Segera Wina dan Vega menghampirinya bersama Sofi yang mengikuti dari belakang.

Terlihat Amel terbatuk-batuk di tepi kolam karena telah menelan air.Radit yang berada di sampingnya pun merasa lega karena Amel sudah bisa bernapas lagi.Wina,Vega,dan Sofi segera mendekati Amel dan membantunya untuk berdiri.Mereka menuntun Amel menuju tempat duduk yang ada di samping kolam.

“Kamu ga apa-apa,Mel?”,tanya Wina yang terlihat khawatir pada keadaan temannya itu.

“Kalo ga bisa renang,bilang aja sama Pak Guru.Di maklumin ko!Daripada akhirnya kamu jadi gini.”,ujar Sofi pada Amel sambil mengelus punggung temannya itu.

Amel masih shock dengan kejadian tadi.Sehingga ia masih belum bisa menjawab pertanyaan ataupun menanggapi pernyataan teman-temannya.Ia masih terlihat terbatuk-batuk sambil memegang dadanya.

Setelah tes renang selesai,semua anak berganti pakaian.Amel bersama ketiga temannya segera menuju ruang ganti.

Amel dengan cepat berganti pakaian tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.Sehingga ia lebih duluan selesai dan keluar dari ruang ganti.Sembari menunggu ketiga temannya selesai,Amel menuju sebuah kantin yang berada tak jauh dari ruang ganti.Ia memesan segelas minuman dan segera duduk di kursi yang kosong.Sambil menikmati minumannya,ia melihat-lihat orang yang hilir mudik di sekitar kolam renang.Tanpa ia sadari,seseorang telah menempati tempat duduk kosong yang ada di sampingnya.

“Hei,kamu baik-baik aja kan?Lain kali kalo emang ga bisa renang ga usah maksain.”,ujar seorang anak laki-laki yang ternyata adalah Radit.

Seketika Amel pun terlepas dari lamunannya.

“O..oh..iya”,jawab Amel dengan sedikit terbata-bata.

Amel bingung kenapa Radit bisa duduk di sebelahnya.Di tengah kebingungannya itu,ia teringat kembali kejadian saat ia tenggelam.Dan ia baru menyadari bahwa yang menolongnya adalah Radit.

“Hmm…makasih ya tadi udah nolong aku.”,ujar Amel ketika telah teringat kembali.

“Oh,iya sama-sama.”,jawab Radit samil tersenyum.

“Woi,Radit!Ayo buruan..”,seru anak laki-laki dari kejauhan.

“Ok..”,seru Radit pada anak laki-laki itu.

“Eh,aku duluan ya..”,ujar Radit pada Amel yang sedang menikmati minumannya.

Amel hanya menjawabnya dengan anggukan.Entah kenapa Amel jadi memperhatikan Radit yang berlalu dari hadapan nya menuju ke arah teman-temannya yang sudah menunggu.Terasa begitu berbeda pandangan Amel terhadap Radit sejak saat itu.Sejak ia telah diselamatkan oleh Sang Penghancur Kehidupan.Yang sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi karena ia telah memiliki Darwin,yang kebetulan hari itu tak mengikuti tes renang karena sakit.

Sesampainya Amel di rumah,ia langsung mendapatkan telepon dari Darwin.Amel pun menceritakan tentang dirinya yang tadi tenggelam dan ditolong oleh Radit.

“Huh,kalo aku ada disitu,aku pasti nolong kamu juga.Ga akan aku biarin kamu tenggelam,apalagi sampe ditolong sama cowo lain.”,ujar Darwin sedikit kecewa dan menyesal mendengar cerita Amel yang ditolong oleh Radit.

Amel merasa tak enak pada Darwin karena telah membuatnya menjadi sedih.

“Ya udah,lain kali aku ga akan tenggelam lagi ko kalo ga ada kamu.”,ujar Amel sambil tertawa kecil.

“Ya udah,kamu istirahat aja.Sampe ketemu besok di sekolah.”,ujar Darwin menutup pembicaraan kali itu.

Amel yang memang merasa lelah segera membaringkan tubuhnya di kasur dan terlelap.

Kesempatan Bersama

Suatu ketika,Amel dipanggil oleh kepala sekolah ketika ia sedang menikmati makan siangnya bersama ketiga temannya di kantin sekolah.

Tanpa banyak bertanya kepada orang yang memberitahukannya itu,ia langsung menuju ruangan kepala sekolah untuk memenuhi panggilan tersebut.Sesampainya Amel disana,ia kembali dikejutkan oleh kehadiran Sang Pengahancur Kehidupannya.Ternyata Radit pun ada di sana.Entah apa yang sedang ia lakukan.Amel berusaha menekan rasa penasarannya itu.Lalu ia pun segera menghampiri kepala sekolah yang sedang duduk di belakang mejanya.

Tanpa menunggu lama,kepala sekolah langsung menjelaskan apa maksudnya memanggil Amel,Radit,dan beberapa anak lainnya.

“Maksud Bapak memanggil kalian kemari adalah untuk membicarakan tentang perlombaan yang Bapak harap kalian bisa mengikutinya.”,jelas Kepala Sekolah pada siswa yang berada di situ,termasuk Amel dan Radit.

Perasaan galau menghinggapi hati Amel yang masih tidak bisa menerima penjelasan Kepala Sekolah.Ia menyusuri lorong sekolah dengan pandangan kosong tak tentu arah.

“Hei..Kenapa tadi kamu dipanggil Kepala Sekolah?Ada masalah?”,tanya Sofi sambil menepuk bahu Amel.

“Ehm,itu..aku disuruh ikut lomba murid teladan sama Kepala Sekolah.”,jawab Amel.

“Ooohh…bagus deh!Aku kira kamu kena masalah sampe dipanggil ke ruang Kepala Sekolah.”,ujar Sofi sedikit tenang.

“Tapi aku ga mau,Sof!”,ujar Amel pada temannya itu.

“Lho,kenapa?Bukannya bagus ya kamu bisa ikut lomba?Aku malah kepengen dari dulu.Tapi ga pernah dapet kesempatan.”,seru Sofi menanggapi pernyataan Amel yang sedikit ganjil.

“Aku ga mau satu tim sama Si Pangeran Lapangan itu.”,ujar Amel sambil tetap dengan pandangan kosong.

“Hah?Radit juga bakal ikut lomba itu?”,seru Sofi dengan terkejut.

Amel menjawabnya dengan anggukan.

“Wah…ga nyangka!Ternyata si Pangeran Lapangan itu juga bukan sekedar Pangeran di lapangan.”,seru Wina mendengar perkataan Amel.

“Gimana nih?Aku bener-bener ga mau satu tim sama dia.”,ujar Amel.

“Tapi mau gimana lagi,Mel!Kamu udah ditunjuk.Langsung sama Kepala Sekolah lagi.Ga enak kalo sampe nolak.Profesional aja deh..”,seru Sofi pada Amel sedikit menasehati.

Amel tak menanggapi Sofi,ia masih terlihat berpikir harus bagaimana nanti.Ia tak mau sampai satu tim dengan Radit yang akan menyebabkan ia akan bersama Radit setiap saat.Itu akan semakin mengacaukan perasaan Amel.Ia tak mau sampai ia menjadi jatuh hati pada Radit.Karena ia sudah memiliki Darwin yang tak lain adalah sepupu Radit.Semakin galau saja perasaan Amel memikirkan itu.

Saat Perlombaan

Amel dan teman-teman satu timnya,termasuk Radit,berangkat ke bandara untuk menuju kota tempat perlombaan itu dilaksanakan.Amel juga diantar oleh ibunya ke bandara,sama seperti teman-temannya yang lain yang diantar oleh orangtua mereka masing-masing.Namun,tak begitu dengan Radit.Ia terlihat membawa barang-barangnya sendirian tanpa ditemani oleh orangtuanya.

Setelah Amel dan teman-temannya yang lain berpamitan pada orangtua masing-masing,mereka pun segera menuju ke tempat penerbangan mereka.

Amel mendapatkan tempat duduk yang tak jauh dari Radit.Sehingga dengan muda,Amel bisa memperhatikan Radit.Radit terlihat begitu tenag saat itu.Bahkan terlalu tenang.Entah kenapa ia bersikap seperti itu.Apakah karena ia tegang karena kan menghadapi sebuah perlombaan ataukah karena ada hal lain yang ia pikirkan.Tapi apa?Amel menjadi sangat penasaran akan hal itu.Ingin ia menanyakannya langsung pada Radit,namun ia tak cukup berani untuk melakukan hal itu.Amel hanya bisa melihat Radit dan terus melihat.

Dua jam perjalanan untuk menuju kota yang dituju pun telah ditempuh.Sesampainya mereka di bandara,rombongan tim lomba pun dijemput oleh sebuah mobil yang mirip minibus.Mereka pun dibawa menuju villa tempat mereka akan menginap selama berada di kota itu.Semua siswa telah mendapatkan kamar yang telah ditentukan oleh guru yang juga ikut untuk membimbing mereka.Setelah mendapatkan kunci kamar,mereka semua pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat sebentar.Karena setelah itu,mereka akan ada acara makan malam.

Tanpa membuang waktu,Amel langsung meletakkan tasnya di lantai dan segera mengambil pakaian ganti dari dalam tasnya.Ia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Dua puluh menit kemudian,semua siswa telah dipanggil untuk segera turun dan makan malam.Amel yang sudah siap langsung memenuhi panggilan itu bersama teman sekamarnya.

Makan malam kali itu terlihat sangat menggugah selera semua orang.Membuat mereka tak sabar untuk mencicipinya.

Setelah perut kenyang oleh makan malam yang memang sangat nikmat itu,mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk perlombaan esok hari.

Pagi sekali Amel sudah bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebagai salah satu persiapan lomba hari itu yang akan dilaksanakan sebelum tengah hari.

Setelah semua telah bersiap,mereka berangkat ke lokasi perlombaan itu dilaksanakan.Semua terlihat tegang,walaupun mereka semua berusaha untuk menyembunyikan ketegangan itu dari wajah mereka.Namun Amel tetap bisa merasakan ketegangan yang dirasakan teman-temannya yang sama seperti yang ia rasakan.

Amel menoleh ke arah Radit yang duduk di jok belakang.Ia terlihat sangat tenang,sama seperti kemarin saat berada di pesawat.Ekspresi wajahnya sangat berbeda dengan teman-temannya yang lain.Ia hanya terdiam dengan arah pandangan mata keluar kaca mobil sambil menggunakan headphone,yang sepertinya ia gunakan untuk mendengarkan musik.

Perlombaan berjalan dengan persaingan yang sangat sengit.Untungnya,tim Amel mendapatkan salah satu posisi yang memberikan mereka kesempatan untuk bisa masuk ke babak semifinal.Semua terlihat puas dengan hasil lomba hari itu.Sangat memuaskan!

Pembicaraan Rahasia

Kemenangan tim hari itu pada perlombaan awal dirayakan dengan pesta barbeque di halaman belakang villa.Semua orang sangat senang malam itu dengan menikmati hidangan barbeque.

Suasana malam yang dingin serta rumput yang basah karena gerimis yang tadi turun menambah sejuknya malam itu.Kesejukan yang dihiasi dengan kehangatan kebersamaan.

Amel merasa sangat lelah hari itu.Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kamar lebih dulu.Mata Amel sudah terasa sangat berat.Ingin ia segera sampai di kamarnya dan segera membaringkan diri dan terlelap.Tanpa disadari,Amel berjalan dengan mata terpejam.Ia pun menabrak sesuatu yang lebih mirip dengan seseorang.Amel yang terkejut,langsung membuka matanya dan ia sangat kaget ketika Radit sudah ada tepat di depannya.

“Hmm,ternyata selain suka ngintip,kamu juga suka tidur sambil jalan ya!Bener-bener lucu.”,seru Radit yang terlihat menahan tawanya.

“Maaf ya,aku bener-bener ngantuk!Sampe ga sadar kalo aku tidur sambil jalan.”,ujar Amel dengan menundukkan kepala karena sangat malu.

“Ya udah,tidur sana!Tapi kali ini,jalannya jangan sambil merem ya.Nanti nabrak lagi.”,ujar Radit lembut sambil berlalu dengan tersenyum.

Amel sangat malu sekali.Ia pun langsung berlari menuju kamarnya.Kali ini dengan mata terbuka.Amel langsung melemparkan tubuhnya di kasur sesampainya di kamar dan menutup wajahnya dengan bantal.Amel uring-uringan sendiri di dalam kamar.Matanya yang pada awalnya sangat mengantuk,kali ini justru terbuka lebar dan sangat sulit untuk terpejam.Bahkan hingga semua orang telah kembali ke kamarnya masing-masingdan teman sekamarnya pun telah terlelap,Amel masih saja tidak bisa terpejam.

Entah kenapa,Amel kembali teringat kejadian ketika ia hendak pergi ke kamar dengan mata terpejam yang pada akhirnya ia menabrak Radit.Sesaat setelah ia memikirkan kejadian itu lagi,ia merasa kepanasan dan kehausan.Ia mengambil gelas yang berisi air di atas meja yang terletak di samping tempat tidurnya.Namun,ternyata airnya sudah habis.Terpaksa ia turun dari tempat tidurnya menuju dapur.Malam itu semua orang sepertinya sudah tidur,hanya tersisa dirinya yang masih terjaga,karena suasananya sangat hening.

Amel segera membuka pintu kulkas dan mengambil segelas air.Lalu ia segera kembali ke kamarnya.Namun,langkah Amel terhenti ketika melihat seseorang sedang terduduk di kursi taman yang terlihat dari balik gorden yang sedikit terbuka.Amel pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar dan memutuskan untuk melihat sosok yang sedang duduk di kursi taman.

Udara dingin menyapu leher Amel yang tak dibalut apa-apa dan juga tubuh Amel yang hanya terbalut oleh piyama ketika ia membuka pintu yang menuju ke taman.Amel semakin mendekati sosok itu yang masih terpatung di kursi taman.Amel mencoba melihat wajah sosok itu ketika ia berada tepat di samping sosok itu.Dan ternyata sosok itu adalah Radit.Amel merasa lega ternyata sosok itu hanyalah Radit.Tak seperti yang dipirkannya.

Radit yang menyadari kehadiran Amel,segera mempersilahkannya duduk di sampingnya.Amel hanya menurut tanpa berkata apapun.Radit tetap terdiam seperti pada waktu ia sendiri.Ia tak berkata apapun pada Amel sampai akhirnya Amel membuka pembicaraan.

“Kamu ngapain di sini sendirian malem-malem?”,tanya Amel membuka pembicaraan.

“Aku lagi menenangkan diri.Udara di sini sejuk banget.Jadi bisa sedikit bantu aku buat ngehapus kepenatan aku.”,jelasnya sambil tetap memandang ke langit.

“Emmm,kalo boleh tau,emang apa yang bikin kamu penat?”,tanya Amel memberanikan diri.

Radit yang mendengar pertanyaan Amel,seketika langsung menoleh dan menatap Amel.Amel merasa tak enak dengan tatapan itu.Mungin Radit merasa tersinggung dengan pertanyaannya itu.

“Maaf,kalo aku udah sembarangan tanya.Kalo kamu ga mau cerita juga ga apa-apa ko.Kamu lanjutin aja nenangin dirinya.Aku masuk.”,ujar Amel sambil bangkit dari duduknya dan segera memutar badan hendak pergi.

“Tunggu!”,seru Radit menahan Amel sambil memegang salah satu pergelangan tangan Amel.

“Duduk.Temenin aku di sini.”,lanjutnya pada Amel.

Amel yang memang penurut,langsung menuruti perkataan Rdit untuk duduk kembali di samping Radit dan menemaninya.

Beberapa saat,Radit tetap membisu.Namun kali ini,pandangannya tak tertuju ke langit yang gelap malam itu yang dihiasi oleh bintang-bintang terang.Kini ia terpaku menatap ke tanah yang dihiasi rumput hijau dan sedikit batu hias.Amel hanya melirik Radit sesekali tanpa berani untuk mengucapkan sepatah kata pun.Pada akhirnya,Radit membuka pembicaraan lebih dulu.

“Hhhh…aku terlalu sendiri,sampai aku ga tau gimana rasanya kasih sayang”,ujar Radit yang diiringi helaan napas panjang.

“Mmmm,maksudnya?”,tanya Amel walaupun ia tak yakin pertanyaannya kali itu dapat diterima.

“Hhhh….aku ga pernah ngerasain kasih sayang orangtua!Orangtua aku cerai waktu aku umur 10 tahun.Ayah aku nikah lagi,dan aku ikut ibu aku.Tapi,dia itu wanita karir.Jadi dia ga pernah punya waktu buat nemenin aku.Walaupun sekedar makan malam.Makanya,ibu aku nyuruh Darwin buat tinggal di rumah aku,buat nemenin aku.Tapi tetep aja!Darwin bukan ibu aku.”,ujar Radit dengan lancarnya bercerita pada Amel.

Amel hanya bisa terdiam karena ia tertegun mendengar kisah Radit yang begitu malang.Ia tak tahu kata-kata apa yang pantas dan pas untuk ia katakan.

“Hahhhh…ya gitu lah kisah hidup aku!Menyedihkan ya?”,seru Radit dengan memasang senyum yang menyedihkan di wajahnya.

“Udah malem banget nih!Kita masuk yuk.Besok kan kita ada lomba lagi.Jadi mendingan kita istirahat.”,ajak Radit pada Amel dengan memasang senyumnya yang biasa.

Sepertinya biasanya,Amel hanya menurut.Ia mengikuti Radit dari belakang.Namun,tiba-tiba saja Radit menghentikan langkahnya dan membalikkan badan ke arah Amel.

“Oya pembicaraan kita yang tadi,tolong jadi rahasia antara kita berdua aja ya?”,pinta Radit pada Amel yang terkejut karena tiba-tiba Radit berbalik arah.

“Oh,iya.Aku ga akan cerita sama siapa-siapa ko!”jawab Amel.

Lalu,Radit pun melanjutkan langkahnya lagi.Dan mereka pun segera masuk ke kamar masing-masing.

Semakin Dekat Saja!!

Tim Amel tiba di bandara setelah mereka menghabiskan waktu 5 hari untuk mengikuti lomba dan mereka berhasil merebut Juara 2 Tingkat Nasional.Tak begitu mengecewakan.

Amel yang sudah dijemput oleh ibunya,segera menuju mobil yang sudah menunggunya.Sebelum Amel masuk ke dalam mobil,ia menoleh untuk melihat apakah ada yang menjemput Radit.Amel hendak mengajak Radit untuk ikut bersamanya agar ia bisa mengantarkan Radit ke rumahnya.Namun,belum saja Amel mengatakan itu pada Radit,Radit telah memasuki taxi yang tak jauh dari mobilnya.Amel pun segera masuk ke dalam mobil.

Setibanya Amel di sekolah keesokan harinya,ia langsung disambut oleh ketiga temannya dan Darwin.Mereka mengucapkan selamat pada Amel dan mereka minta untuk Amel mentraktir mereka makan di kantin.Amel yang memang baik hati pun mentraktir mereka makan.Tanpa menunggu lebih lama lagi,ketiga temannya itu segera menarik Amel menuju kantin.Darwin yang juga ikut hanya bisa tersenyum melihat tingkah teman-teman Amel itu.

Teman-teman Amel sedang menikmati makanan yang dibelikan Amel sebagai perayaan kemenangan tim Amel dalam perlombaan kemarin.Amel hanya melirik teman-temannya yang begitu bahagia karena keinginan mereka telah dipenuhi oleh Amel.Dan Darwin masih tetap tertawa kecil melihat tingkah mereka semua.Sangat lucu bagi Darwin.

Lalu Amel teringat akan tugasnya hari itu untuk menjaga UKS.Karena ia adalah seorang anggota PMR.Ia pun meminta izin pada teman-temannya dan Darwin untuk pergi lebih dulu.

“Huh,selamet.Untung ada alesan buat kabur dari mereka.Kalo ga,uang jajan aku selama seminggu bisa abis dikeruk sama mereka!”,seru Amel setibanya di UKS.

Amel membereskan ruangan UKS yang sedikit berantakan.Tak lama setelah Amel selesai membereskan semua kekacauan,datanglah seorang siswa yang ternyata adalah Radit,bersama kedua teman yang mengantarnya,yang sepertinya cedera pada kakinya karena terlihat cucuran darah yang berasal dari kakinya.Amel pun segera mengahmpirinya.

Radit segera didudukkan di salah satu kasur yang ada di UKS dan Amel segera mengambil kotak obat yang ada di lemari serta sedikit air untuk membersihkan luka Radit terlebih dulu.

Dengan sangat hati-hati,Amel membersihkan luka pada kaki Radit,lalu memberinya obat hingga lukanya rapih tertutup kain kassa.

“Makasih ya.”,ujar Radit pada Amel karena Amel telah mengobati luka pada kakinya.

“Sama-sama.Ini juga udah tugas aku.Oya emang kenapa kaki kamu bisa gini?”,ujar Amel dengan sedikit bertanya.

“Tadi jatuh pas lagi main futsal.Biasa lah!”,seru Radit santai.

“Dasar cowo!”,seru Amel sembari tersenyum.

“Ya gini lah cowo!Kalo ga punya luka,bukan cowo namanya.”,canda Radit.Mereka berdua pun tertawa kecil.

Sangat terlihat keakraban mereka berdua akhir-akhir ini.Sejak Amel dan Radit menjadi partner dalam perlombaan minggu kemarin.Terlihat ketika suatu hari Amel disuruh gurunya untuk mengembalikan buku ke perpustakaan.Ketika Amel sedang kesusahan untuk membawa setumpuk buku itu,tanpa diminta Radit langsung membantu membawa sebagian buku yang Amel bawa ketika Radit melihatnya.Dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan Radit pada Amel yang membuat mereka menjadi terlihat lebih dekat dibanding sebelumnya.Hingga akhirnya,kedekatan mereka diketahui oleh teman-temannya.

“Mel,aku liat akhir-akhir ini kamu jadi tambah deket ya sama Radit?Bahkan deket banget!”,seru Wina ketika mereka sedang mengobrol di taman sekolah.

“Ah,masa sih?Kayanya biasa aja deh.Kaliannya aja kali yang berlebihan.”,ujar Amel berusaha mengelak.

“Emang bener lho,Mel!Kamu sekarang tuh keliatan deket banget sama Radit.Beda banget dari dulu-dulu.”,ujar Sofi menambahkan.

“Tuh kan?Sofi aja bilang iya,Mel!Berarti emang pengamatan aku ga salah.”,seru Wina menegaskan.

“Emang sebenernya ada apa sih antara kamu sama Radit?”,tanya Vega pada Amel yang kelihatan sedikit kebingungan.

“Emm,ga ada apa-apa ko!Kita masih kaya biasa ko.Kalian ini.Kompak banget deh buat mojokin aku.”,ujar Amel berusaha meyakinkan teman-temannya.

“Kita bukan mojokin,Mel!Tapi kita Cuma mau mengingatkan aja kalo kamu tuh udah ada Darwin.Jangan sampe Darwin sama Radit jadi ada masalah cuma gara-gara Darwin cemburu.Gitu loh,Mel!”,seru Sofi menjelaskan maksud mereka.

“Iya,kalian tenang aja.Aku ga ada apa-apa ko sama Radit.Aku Cuma temen biasa aja.Jadi pliss,jangan bilang apa-apa sama Darwin soal ini.Soalnya aku emang ga ada apa-apa sama Radit.Aku ga mau ngerusak hubungan akau sendiri.”,ujar Amel memohon pada ketiga teman-temannya.

“Ok.Kita janji ga akan ngasih tau Darwin tentang ini,asal kamu janji ga akan melebihi sebuah pertemanan sama Radit.”,janji Sofi pada Amel dengan sedikit persyaratan yang harus Amel penuhi.

“Iya,aku janji ko!Makasih ya.”,ujar Amel yang sudah terlihat lega kali ini.

“Makanya,jangan terlalu benci sama orang.Bisa-bisa jadi suka lho!”,goda Wina pada Amel yang terlihat cemberut mendengar candaan itu.

Mereka bertiga tertawa lepas melihat ekspresi temannya yang satu ini.

Temenan..?!

Hubungan Amel dan Darwin tetap terlihat harmonis.Seperinya Drawin memang tak tahu akan kedekatan Amel dan Radit belakangan ini.Amel sangat bersyukur atas hal itu.Sehingga hubungannya dengan Darwin baik-baik saja.Walaupun terkadang Amel masih saja terlihat dekat dengan Radit oleh orang lain dan ketiga teman Amel.Sofi selalu selalu mengingatkan Amel bahwa ia telah memiliki Darwin sekarang ini.Jangan sampai,Amel melukai hati Darwin dengan kedekatannya dengan Radit yang semakin hari semakin terlihat dekat.Namun,berbeda halnya dengan Wina dan Vega.Mereka malah meledek Amel.Mereka menjadikan kedekatan Amel dengan Radit sebagai bahan candaan untuk menggoda Amel.Mereka berdua terlihat santai saja melihat kedekatan Amel an Radit.Karena menurut mereka,Darwin dan Radit sama-sama keren dan terkenal.Jadi tak masalah,Amel dekat dengan siapapun di antara mereka berdua.

Sebenarnya,Amel merasa tak enak hati pada Darwin.Namun,ia tak bisa menahan diri untuk dekat dengan Radit.Setiap hari,Amel pasti bertemu dengan Radit di sekolah maupun di luar sekolah.Dan sebisa mungkin Amel menyembunyikan hal itu dari Darwin hingga ia dan teman-temannya menginjak kelas dua SMA.

Suatu hari,Darwin yang merupakan salah satu siswa yang top dan keren ditembak oleh salah satu siswi yang merupakan adik kelasnya.Amel yang mendengar hal itu dari Wina,Vega,dan Sofi segera mencari Darwin untuk menanyakan hal itu secara langsung pada Darwin.Amel terlihat sangat kesal mendengar hal itu.Dan yang membuatnya bertambah geram adalah jawaban Darwin yang menerima pernyataan cinta gadis itu.

Amel yang berhasil menemukan Darwin di lapangan basket langsung menariknya ke pinggir lapangan dan langsung menumpahkan kemarahannya di sana.Dengan begitu sabarnya Darwin berusaha untuk mendengarkan dan membiarkan emosi Amel tertumpahkan semua.Setelah Amel berhenti bicara,Darwin segera menjelaskannya pada Amel.

“Aku emang ditembak sama cewe,tapi aku ga nerima dia seperti yang kamu bilang tadi.”,jelas Darwin dengan penuh kelembutan.

“Bohong!Buktinya temen-temen aku bilang gitu.Ga usah ngelak deh!”,bentak Amel pada Darwin yang masih terlihat tenang.

“Gini,aku emang ga bilang secara langsung kalo aku nolak dia,aku bilang kalo aku bakal pikirin itu.Bukan berarti aku nerima dia kan?Sekarang terserah kamu mau percaya sama aku atau lebih percaya sama omongan orang-orang.Yang penting aku udah jujur ceritain semuanya.”,ujar Darwin sambil membelai kepala Amel dengan lembut.

Amel yang semula terlihat sangat marah,kini terlihat lebih tenang.Ia menatap Darwin dalam-dalam.Berusaha mencari tahu kebenaran perkataan Darwin tadi.Yang pada akhirnya,Amel percaya pada semua perkataan Darwin.Ia yakin bahwa Darwin tak berbohong padanya.Mereka pun kembali berbaikan.Mereka tersenyum satu sama lain dan tanpa disadari mereka pun saling berpelukan yang mendapat sorakan dari siswa-siswa yang melihat pemandangan yang sangat romantis itu.Amel dan Darwin merasa sangat malu dan segera melepas pelukan mereka.

Hubungan Amel dan Darwin kembali berjalan baik hingga terdengar berita bahwa siswi yang beberapa waktu lalu menyatakan cinta pada Darwin masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri.Amel sangat terkejut mendengarnya.Ia langsung membicarakannya dengan Darwin sepulang sekolah pinggir lapangan basket,tempat mereka bertengkar karena masalah siswi itu.

“Darwin,gimana nih?Masa cewe itu sampe coba buat bunuh diri gara-gara cintanya ditolak sama kamu.”,ujar Amel dengan sedikit khawatir.

Darwin pun terdiam sejenak dan menghela napas panjang,lalu berkata,”Aku juga ga tau Mel harus gimana.Aku ga nyangka dia sampe senekat itu!”,seru Darwin yang terlihat tak tenang kali itu.

“Aku jadi ngerasa ga enak sama keluarganya!”,ujar Amel dengan kepala tertunduk.

“Lho,kenapa kamu harus ngerasa ga enak?Kamu kan bukan penyebab dia berusaha bunuh diri,Amel.Tenang aja!Sebentar lagi pasti dia lupa ko sama kejadian kemarin.Aku yakin!Tenang ya.Aku bakal selalu temenin kamu.”,ujar Darwin berusaha untuk menenangkan Amel.

“Justru karena kamu selalu sama aku,makanya cewe itu mencoba buat bunuh diri!Lebih baik mulai sekarang kita jaga jarak.”,ujar Amel tanpa berani menatap wajah Darwin.

“Maksud kamu apa sih,Mel?Jangan buat keputusan disaat kepala sedang panas.”,ujar Darwin yang bingung dengan perkataan Amel tadi.

“Kita temenan aja mulai sekarang.Aku ga mau sampe ngilangin nyawa orang karena keegoisan aku buat milikin kamu.”,ujar Amel dengan mata berkaca-kaca karena tak kuat menahan emosi yang bergejolak dalam hatinya.

“Amel,dengan putusnya kita itu ga akan memperbaiki keadaan.Karena aku tetap ga mau jadian sama siapapun selain sama kamu.”,ujar Darwin memohon pada Amel untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang baru saja Amel ambil.

“Tapi….”,Amel berhenti berkata-kata karena ia juga tak tahu apa yang harus ia katakan.

Darwin yang melihat itu langsung angkat bicara,”Kamu Cuma takut untuk menghadapi ini semua Amel.Kalaupun cewe itu harus kehilangan nyawanya,itu bukan salah kita.Sama sekali ga ada kaitannya sama kita.”

“Tapi…”,kata-kata Amel terputus oleh pernyataan Darwin yang cukup mengejutkan Amel.

“Masa Cuma karena ini kamu minta putus?Aku aja yang sering nahan rasa cemburu aku karena kedekatan kamu sama Radit,sepupu aku sendiri,aku ga sampe minta putus kan?Itu karena apa?Karena aku sayang banget sama kamu,Amel!”,seru Darwin sambil menatap mata Amel begitu lekat.

Amel terkejut,ternyata Darwin mengetahui kedekatannya dengan Radit.Bibirnya semakin kelu,tak dapat mengatakan sepatah kata pun.

“Kamu pasti berpikir,kenapa aku bisa tau!Aku tau ini bukan dari siapapun.Tapi aku ngeliat sendiri setiap hari.Kamu tau gimana perasaan aku waktu ngeliat kamu berduaan sama Radit begitu akrab?Dengan senyuman kamu yang ga pernah kamu kasih ke aku?Begitu sakit rasanya.Tapi aku coba buat nahan semua kesakitan itu semua dengan mengingat bahwa aku sangat mencintai kamu.”,jelas Darwin menjawab pertanyaan dalam benak Amel.

“Maaf Darwin.Tapi keputusan aku udah bulat.Aku bener-bener ga bisa lanjutin hubungan kita.Aku ga mau nyakitin lagi perasaan orang lain.Perasaan cewe itu dan perasaan kamu.”,ujar Amel sambil berlalu dari hadapan Darwin dengan tangisan yang terurai dari matanya yang sudah tak tertahan lagi.

Darwin tertunduk di tengah lapangan basket yang ditutupi awan mendung yang turut bersedih.Amel terus berlari tak tentu arah dengan tangisan yang masih belum terhenti.Lalu hujan pun turun membasahi bumi sore itu dan membasahi dua anak Adam yang sedang diliputi kesedihan.

Darwin memainkan bola basketnya di tengah hujan yang deras.Tak peduli betapa basahnya ia.Darwin tetap melanjutkan permainannya dengan melakukan shoot yang tak pasti.Emosinya kali itu benar-benar tak terkontrol.Darwin pun menyentakkan bolanya ke tanah dan berteriak sekuatnya.Berusaha melepas emosi yang menguasainya.

Amel yang merasa lelah berlari,menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon rindang.Ia terduduk lemas di sana.Air mata yang bercampur dengan hujan diiringi dengan isak tangisnya yang masih terdengar dengan jelas.Amel sangat sedih atas keputusannya sendiri.Namun,menurutnya itulah yang terbaik bagi mereka berdua dan bagi semuanya.

Inspirasi 2
Posted on September 14th, 2010 at 9:07 pm by annisa.suwandasari10

Teknik Karet Gelang Merah

Teknik sederhana ini saya pelajari dari Robert G. Allen, milyuner dari New York dan pengarang buku best seller “Road to Wealth”. Allen mengatakan, bahwa dalam setiap tindakan kita, selalu ada pikiran positif dan negatif. Bahkan jika kita berdiam diri pun juga ada kedua pikiran tersebut, misalnya pikiran positif akan berkata “Ayo,kita mulai bekerja”.

Sedangkan pikiran negatif berkata “Ah, nanti saja. Sedang enak nih duduk-2nya”. Kedua pikiran ini sama kekuatannya. Jadi terkadang positif yang menang, saat lain negatif yang menang. Lalu, jika memang kekuatannya 50 : 50, bagaimana caranya agar positif bisa lebih dominan ?

Jika memang kekuatannya sama, maka harus ada perangsang dari luar yang bisa mencegah, ketika pikiran negatif keluar. Allen menggunakan karet gelang merah di pergelangan tangan kirinya. Setiap saat ada pikiran negatif sekecil apapun yang melintas di pikirannya, dia langsung menjepret tangannya dengan karet gelang tersebut. Sepintas memang tampak lucu. Tapi pengaruhnya ke alam bawah sadar (ABS) anda luar biasa besar. Apabila anda konsisten dengan menjepretkan kareng gelang setiap kali anda berpikir negatif, maka ABS anda akan merekamnya menjadi suatu kebiasaan yang harus dihindari.

Seorang teman telah menggunakannya selama 2 bulan. Pada awalnya memang tangan kirinya banyak garis-2 merah karena sering dijepret. Namun semakin lama semakin berkurang.

Ada satu pertanyaan yang mengelitik, yaitu mengapa mesti karet yang berwarna merah .. Bukankah karet gelang ada beragam warna ? Atau mungkin juga pertanyaan mengapa mesti ditangan kiri, bukan di kanan, atau di kaki ?

Robert G. Allen mengatakan, hal-2 ini kelihatannya remeh, tapi mengandung makna yang besar. Banyak orang yang mengatakan ingin berubah menjadi lebih baik .. Tapi begitu diberikan satu petunjuk, biasanya petunjuk ini lalu DITAWAR. Ini masalah komitmen. Apabila anda mau BERUSAHA mencari karet yang berwarna merah, dan memasangnya di tangan kiri, itu sudah membuktikan anda mempunyai komitmen yang tinggi untuk berubah. Apabila untuk hal kecil ini saja sudah anda tawar, mungkin komitmen anda untuk berubah baru di tahap coba-coba saja.

Hal lain yang sering menjadi pertanyaan disini adalah, sebenarnya apakah yang disebut pikiran negatif itu ? Karena banyak orang tidak sadar bahwa dia melakukan atau memikirkan hal negatif. Nah, dibawah ini ada daftar hal negatif yang harus anda `jepret’ ketika anda mengalaminya

Menunda, malas, marah, lesu, curiga, malu, ragu-2, rendah diri, sombong, egois, minder, kuatir, berkata-kata kotor, cemburu, patah hati, takut, berpikir jorok, dengki, iri, sirik, dendam, sinis, cemberut, pesimis, takut gagal, resah, takut memulai, cuek, acuh, pasif, cemas, menipu, merajuk, murka, fitnah, menang sendiri, bergosip ria, merasa tak pernah salah, berbohong, berprasangka buruk, meremehkan, dan lain sebagainya. Anda bisa tambahkan disini tindakan-2 anda sendiri yang menurut anda negatif, dan perlu `dijepret’.
Selamat mencoba !

Inspirasi 1
Posted on September 14th, 2010 at 9:05 pm by annisa.suwandasari10

Seorang Hebat yang Menjadi Inspirasi Semua Orang

Pada suatu zaman,terlahirlah seorang yang hebat.Seorang yang terlahir begitu sempurna,tanpa cela sedikitpun.Tak ada orang yang  bisa menandingi dia pada zaman itu maupun pada zaman ini.Dia begitu hebat dalam menghadapi kehidupan yang kejam dan dalam mengemban tugas yang amat sangat berat.Tugas yang benar-benar memerlukan banyak  perjuangan.

Dia adalah panutan bagi kita semua,terutama umat muslim.Yaitu, Nabi Muhammad SAW.Dia adalah sosok yang benar-benar menginspirasiku sekaligus menjadi panutan dalam segala hal.

Sifatnya yang benar-benar sabar dan semua sifat-sifat luar biasa lainnya yang amat sangat luar biasa.

Salah satu sifat nya yang menjadi inspirasi sekaligus menjadi sesuatu hal yang wajib aku lakukan adalah sabar saat ada orang yang membenci,menghina atau menjelek-jelekan kita.

Itulah yang aku terapkan pada diriku saat ada orang yang tidak suka terhadapku.

Pada saat SMA,ada seorang teman yang tidak suka terhadapku hanya karena hal kecil yang sebenarnya tidak aku lakukan.Itu hanyalah sebuah kesalahpahaman dia terhadapku.

Namun,dia terlanjur membenciku dan menjelek-jelekan ku di depan teman-temannya bahkan di depan orang banyak.Saat itu aku merasa sangat ingin membantah apa yang telah dia katakan dan membalasnya.Namun aku berpikir,untuk apa aku membuang-buang energi hanya untuk melakukan hal yang sangat tidak penting.Dan jika sampai aku melakukan itu,hanya akan membuat diriku malu atas apa yang aku lakukan .Karena itu merupakan sesuatu hal yang bodoh.Itulah yang ada di pikiranku saat itu.

Lalu,aku juga teringat sikap Rasulullah saat dia dihina dan diperlakukan tidak baik oleh orang-orang kafir.Yaitu,dia tidak membalas perbuatan mereka,tapi malah mendoakan yang baik-baik untuk mereka semua yang telah menganiaya dia.

Dan itulah yang aku juga lakukan pada temanku yang telah cukup membuatku merasa teraniaya.Aku mendoakan dia agar dia bisa sembuh dari penyakit penyempitan syaraf otak nya.Alhamdulilllah,Allah SWT mendengarkan doaku.Sekarang dia sudah bisa menjadi ceria kembali dan bisa beraktivfitas seperti biasanya,walaupun mungkin penyakitnya belum sembuh total.

Dan sejak saat itu,dia menjadi baik kembali kepadaku tanpa aku membalas perbuatan dia dengan hal yang sama dengan yang telah dia lakukan terhadapku.

Itulah cerita inspirasi ku yang aku tulis berdasarkan pengalaman pribadi ku.

Aku sangat mengambil hikmah dari pengalaman ku yang satu ini.Yaitu,janganlah kita membalas suatu perbuatan buruk dengan perbuatan buruk juga.Karena tak selamanya,membalas sesuatu yang telah kita terima dengan hal yang sama itu baik.Dan tak selamanya,tidak membalas suatu perbuatan buruk dengan hal buruk lagi,bahkan membalasnya dengan perbuatan baik itu buruk.


Posted on September 14th, 2010 at 8:52 pm by annisa.suwandasari10

Seorang Hebat yang Menjadi Inspirasi Semua Orang

Pada suatu zaman,terlahirlah seorang yang hebat.Seorang yang terlahir begitu sempurna,tanpa cela sedikitpun.Tak ada orang yang  bisa menandingi dia pada zaman itu maupun pada zaman ini.Dia begitu hebat dalam menghadapi kehidupan yang kejam dan dalam mengemban tugas yang amat sangat berat.Tugas yang benar-benar memerlukan banyak  perjuangan.

Dia adalah panutan bagi kita semua,terutama umat muslim.Yaitu, Nabi Muhammad SAW.Dia adalah sosok yang benar-benar menginspirasiku sekaligus menjadi panutan dalam segala hal.

Sifatnya yang benar-benar sabar dan semua sifat-sifat luar biasa lainnya yang amat sangat luar biasa.

Salah satu sifat nya yang menjadi inspirasi sekaligus menjadi sesuatu hal yang wajib aku lakukan adalah sabar saat ada orang yang membenci,menghina atau menjelek-jelekan kita.

Itulah yang aku terapkan pada diriku saat ada orang yang tidak suka terhadapku.

Pada saat SMA,ada seorang teman yang tidak suka terhadapku hanya karena hal kecil yang sebenarnya tidak aku lakukan.Itu hanyalah sebuah kesalahpahaman dia terhadapku.

Namun,dia terlanjur membenciku dan menjelek-jelekan ku di depan teman-temannya bahkan di depan orang banyak.Saat itu aku merasa sangat ingin membantah apa yang telah dia katakan dan membalasnya.Namun aku berpikir,untuk apa aku membuang-buang energi hanya untuk melakukan hal yang sangat tidak penting.Dan jika sampai aku melakukan itu,hanya akan membuat diriku malu atas apa yang aku lakukan .Karena itu merupakan sesuatu hal yang bodoh.Itulah yang ada di pikiranku saat itu.

Lalu,aku juga teringat sikap Rasulullah saat dia dihina dan diperlakukan tidak baik oleh orang-orang kafir.Yaitu,dia tidak membalas perbuatan mereka,tapi malah mendoakan yang baik-baik untuk mereka semua yang telah menganiaya dia.

Dan itulah yang aku juga lakukan pada temanku yang telah cukup membuatku merasa teraniaya.Aku mendoakan dia agar dia bisa sembuh dari penyakit penyempitan syaraf otak nya.Alhamdulilllah,Allah SWT mendengarkan doaku.Sekarang dia sudah bisa menjadi ceria kembali dan bisa beraktivfitas seperti biasanya,walaupun mungkin penyakitnya belum sembuh total.

Dan sejak saat itu,dia menjadi baik kembali kepadaku tanpa aku membalas perbuatan dia dengan hal yang sama dengan yang telah dia lakukan terhadapku.

Itulah cerita inspirasi ku yang aku tulis berdasarkan pengalaman pribadi ku.

Aku sangat mengambil hikmah dari pengalaman ku yang satu ini.Yaitu,janganlah kita membalas suatu perbuatan buruk dengan perbuatan buruk juga.Karena tak selamanya,membalas sesuatu yang telah kita terima dengan hal yang sama itu baik.Dan tak selamanya,tidak membalas suatu perbuatan buruk dengan hal buruk lagi,bahkan membalasnya dengan perbuatan baik itu buruk.


Posted on September 14th, 2010 at 8:51 pm by annisa.suwandasari10

Teknik Karet Gelang Merah

Teknik sederhana ini saya pelajari dari Robert G. Allen, milyuner dari New York dan pengarang buku best seller “Road to Wealth”. Allen mengatakan, bahwa dalam setiap tindakan kita, selalu ada pikiran positif dan negatif. Bahkan jika kita berdiam diri pun juga ada kedua pikiran tersebut, misalnya pikiran positif akan berkata “Ayo,kita mulai bekerja”.

Sedangkan pikiran negatif berkata “Ah, nanti saja. Sedang enak nih duduk-2nya”. Kedua pikiran ini sama kekuatannya. Jadi terkadang positif yang menang, saat lain negatif yang menang. Lalu, jika memang kekuatannya 50 : 50, bagaimana caranya agar positif bisa lebih dominan ?

Jika memang kekuatannya sama, maka harus ada perangsang dari luar yang bisa mencegah, ketika pikiran negatif keluar. Allen menggunakan karet gelang merah di pergelangan tangan kirinya. Setiap saat ada pikiran negatif sekecil apapun yang melintas di pikirannya, dia langsung menjepret tangannya dengan karet gelang tersebut. Sepintas memang tampak lucu. Tapi pengaruhnya ke alam bawah sadar (ABS) anda luar biasa besar. Apabila anda konsisten dengan menjepretkan kareng gelang setiap kali anda berpikir negatif, maka ABS anda akan merekamnya menjadi suatu kebiasaan yang harus dihindari.

Seorang teman telah menggunakannya selama 2 bulan. Pada awalnya memang tangan kirinya banyak garis-2 merah karena sering dijepret. Namun semakin lama semakin berkurang.

Ada satu pertanyaan yang mengelitik, yaitu mengapa mesti karet yang berwarna merah .. Bukankah karet gelang ada beragam warna ? Atau mungkin juga pertanyaan mengapa mesti ditangan kiri, bukan di kanan, atau di kaki ?

Robert G. Allen mengatakan, hal-2 ini kelihatannya remeh, tapi mengandung makna yang besar. Banyak orang yang mengatakan ingin berubah menjadi lebih baik .. Tapi begitu diberikan satu petunjuk, biasanya petunjuk ini lalu DITAWAR. Ini masalah komitmen. Apabila anda mau BERUSAHA mencari karet yang berwarna merah, dan memasangnya di tangan kiri, itu sudah membuktikan anda mempunyai komitmen yang tinggi untuk berubah. Apabila untuk hal kecil ini saja sudah anda tawar, mungkin komitmen anda untuk berubah baru di tahap coba-coba saja.

Hal lain yang sering menjadi pertanyaan disini adalah, sebenarnya apakah yang disebut pikiran negatif itu ? Karena banyak orang tidak sadar bahwa dia melakukan atau memikirkan hal negatif. Nah, dibawah ini ada daftar hal negatif yang harus anda `jepret’ ketika anda mengalaminya

Menunda, malas, marah, lesu, curiga, malu, ragu-2, rendah diri, sombong, egois, minder, kuatir, berkata-kata kotor, cemburu, patah hati, takut, berpikir jorok, dengki, iri, sirik, dendam, sinis, cemberut, pesimis, takut gagal, resah, takut memulai, cuek, acuh, pasif, cemas, menipu, merajuk, murka, fitnah, menang sendiri, bergosip ria, merasa tak pernah salah, berbohong, berprasangka buruk, meremehkan, dan lain sebagainya. Anda bisa tambahkan disini tindakan-2 anda sendiri yang menurut anda negatif, dan perlu `dijepret’.
Selamat mencoba !